Puisi Anak Sekolah
Selamat datang di blog aku.
My Best Friend
Pada pukul 04:30
jam bekerkui berbunyi. KRIING!! KRIING!! Itu sangat membuat telingaku sakit,
Aku segera beranjak bangun dari tempat tidur, dan segera turun ke bawah untuk
mengambil air wudu lalu melaksanakan salat subuh secara berjamaah dengan
keluargaku. Setelah salat subuh kami semua sarapan bersama. Aku bercerita ke
keluargaku bahwa aku mempunyai sahabat baru di sekolah.
“Ma, pa, nek.
kemarin di sekolah ada murid baru namanya Icha, dia pindahan dari bandung. Dia
cepat akrab
denganku dan dia menjadi sahabatku sekarang.” ucapku.
“Oh ya? bagus dong, kalau kamu sekarang punya sahabat baru.” ucap Mama.
“Kapan-kapan kamu ajak dia main ke rumah.” ucap Papa.
“Pasti pa, secepatnya aku akan bawa dia ke sini” ucapku.
“Oh ya? bagus dong, kalau kamu sekarang punya sahabat baru.” ucap Mama.
“Kapan-kapan kamu ajak dia main ke rumah.” ucap Papa.
“Pasti pa, secepatnya aku akan bawa dia ke sini” ucapku.
Jam sudah
menunjukkan pukul 06. 00, aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Aku
harus berangkat lebih awal dari teman temanku karena aku yang membawa kunci
kelas. Jam sudah menunjukkan pukul 06. 15 aku segera turun dan berpamitan ke
orangtuaku.
“Ma, pa Olive berangkat ke sekolah dulu ya? mungkin Olive nanti pulang terlambat karena Olive harus ke toko buku dulu.” ucapku sambil menciup tangan kedua orangtuaku.
“Iya, tapi jangan lama-lama ya. Sudah sana berangkat pak Rahmat sudah menunggu dari tadi.” ucap Papa.
“Baik pa, Olive berangkat dulu ya assalamualiakum.” jawabku.
“waalaikumsalam.” jawab kedua orangtuaku.
“Ma, pa Olive berangkat ke sekolah dulu ya? mungkin Olive nanti pulang terlambat karena Olive harus ke toko buku dulu.” ucapku sambil menciup tangan kedua orangtuaku.
“Iya, tapi jangan lama-lama ya. Sudah sana berangkat pak Rahmat sudah menunggu dari tadi.” ucap Papa.
“Baik pa, Olive berangkat dulu ya assalamualiakum.” jawabku.
“waalaikumsalam.” jawab kedua orangtuaku.
Aku dari kecil
sudah diajari oleh kedua orangtuaku untuk selalu mengucapkan salam sebelum
keluar rumah atau masuk rumah. Aku segera pergi ke garasi untuk menemui pak
Rahmat (supirku) dan ternyata benar kata kedua orangtuaku kalau pak Rahmat
sudah menungguku. Aku segerah berlari dan masuk mobil.
“Pagi neng” ucap supirku.
“Pagi pak” balasku.
“Mau berangkat sekarang neng?”
“iyalah sekarang masa besok”
“Pagi neng” ucap supirku.
“Pagi pak” balasku.
“Mau berangkat sekarang neng?”
“iyalah sekarang masa besok”
Selama 10 menit
perjalanan ke sekolah akhirnya aku sampai juga. Aku segerah berlari ke kelas
sambil berharap agar masih belum ada anak yang datang. Dan ternyata sudah ada
anak di sana yaitu Icha, Marvell dan Kirana mereka semua sahabatku yang sangat
rajin, aku segera menghampiri mereka.
“hai.” sapaku
“hai Olive, akhirnya kamu datang juga, kita sudah berpikir kalau kamu hari ini tidak masuk sekolah. Dan ternyata kamu masuk. Untung saja.” ucap Icha.
“iya maaf, di jalan macet jadi aku datang ke sini agak lama. Maaf ya aku membuat kalian nunggu lama. “jawabku sambil merasa bersalah.
“iya tidak apa-apa liv.” jawab Marvell.
“ya sudah buruan bukain pintunya aku mau duduk cape.” jawab Kirana dengan nada kesal.
“iya” jawabku, kemudian aku membukakan pintu kelas.
“hai.” sapaku
“hai Olive, akhirnya kamu datang juga, kita sudah berpikir kalau kamu hari ini tidak masuk sekolah. Dan ternyata kamu masuk. Untung saja.” ucap Icha.
“iya maaf, di jalan macet jadi aku datang ke sini agak lama. Maaf ya aku membuat kalian nunggu lama. “jawabku sambil merasa bersalah.
“iya tidak apa-apa liv.” jawab Marvell.
“ya sudah buruan bukain pintunya aku mau duduk cape.” jawab Kirana dengan nada kesal.
“iya” jawabku, kemudian aku membukakan pintu kelas.
Kami berempat
segera masuk dan menaruh tas setelah itu kami pergi ke kantin tapi, Kirana
tidak mau ikut ke kantin hari ini. Aku tidak tahu penyebabnya apa gara-gara aku
ya?
“Kalian mau makan apa? biar aku pesanin.” Tanya Marvell.
“Aku minum saja deh lagi tidak nafsu makan.” jawabku.
“Mau minum apa kamu?” Tanya Marvell.
“Jus avocado saja.” jawabku.
“Kalau kamu Icha?”
“Mmm… aku sama kayak Olive aja deh.” jawab Icha.
“Kalian mau makan apa? biar aku pesanin.” Tanya Marvell.
“Aku minum saja deh lagi tidak nafsu makan.” jawabku.
“Mau minum apa kamu?” Tanya Marvell.
“Jus avocado saja.” jawabku.
“Kalau kamu Icha?”
“Mmm… aku sama kayak Olive aja deh.” jawab Icha.
Setelah menunggu
beberapa menit datang juga pesanan kita. KRIING!! KRIING!! Belum sempat minum,
bel sudah berbunyi dengan terpaksa aku langsung kembali ke kelas. Di kelas
suasana masih rame, ya maklum kalau belum ada guru yang datang ada yang
bergosip, lempar-lempar kertas, benyanyi pokoknya rame deh. Beberapa menit
kemudian Bu Syila datang.
“Good Morning students” sapa Bu Syila
“Good morning mom”
“right, now we will study about introduction.” ucap Bu Syila.
“Good Morning students” sapa Bu Syila
“Good morning mom”
“right, now we will study about introduction.” ucap Bu Syila.
Dua jam telah
berlalu. Bel telah berbunyi sekarang jam telah menunjukkan pukul 14:00. semua
telah pulang ke rumah masing masing. Sedangkan aku masih di sekolah karena pak
rahmat belum datang, aku sudah menelfonnya berkali kali tetapi tidak ada
jawaban. Sudah beberapa menit aku menunggu pak rahmat tidak datang juga.
“Olive…”
“eh Marvell.”
“kenapa kamu belum pulang?” Tanya Marvell.
“iya, pak Rahmat belum datang dari tadi.” jawabku.
“ya udah kamu aku anterin pulang ya?” Tanya Marvell.
“tidak perlu aku bisa naik taksi kok. Lagian aku harus ke toko buku dulu aku mau beli buku” jawabku.
“sudah tidak apa-apa nanti aku anterin kamu ke toko buku terus aku anterin kamu pulang” jawab Marvell.
“eh Marvell.”
“kenapa kamu belum pulang?” Tanya Marvell.
“iya, pak Rahmat belum datang dari tadi.” jawabku.
“ya udah kamu aku anterin pulang ya?” Tanya Marvell.
“tidak perlu aku bisa naik taksi kok. Lagian aku harus ke toko buku dulu aku mau beli buku” jawabku.
“sudah tidak apa-apa nanti aku anterin kamu ke toko buku terus aku anterin kamu pulang” jawab Marvell.
Hampir 5 menit
Marvell memaksaku untuk pulang bareng sama dia. Tapi setelah aku pikir-pikir
kayaknya aku tidak mungkin nolak tawarannya karena sampai sekarang pak Rahmat
belum datang juga mungkin dia lupa untuk menjemputku, aku segera masuk ke mobil
Marvell.
“Olive…”
“apa?” jawabku.
“apakah kamu cuma menganggapku hanya sebagai sahabat saja?” Tanya Marvell.
“maksud kamu apa?” jawabku dengan nada bingung.
“aku suka sama kamu Olive.” jelas Marvell
“aku tidak berkata sedikit pun dan aku membuang muka ke Marvell.” Bukannya aku tidak suka kalau Marvell nyatakan perasaannya tapi kenapa harus ke aku emang tidak ada cewek lain apa.
“Olive.. kamu marah sama aku?” Tanya Marvell.
“Tidak kok aku mengantuk aku ingin cepat cepat pulang. Bisa agak di percepat tidak?” tanyaku.
“Baiklah.” jawabnya.
“Olive…”
“apa?” jawabku.
“apakah kamu cuma menganggapku hanya sebagai sahabat saja?” Tanya Marvell.
“maksud kamu apa?” jawabku dengan nada bingung.
“aku suka sama kamu Olive.” jelas Marvell
“aku tidak berkata sedikit pun dan aku membuang muka ke Marvell.” Bukannya aku tidak suka kalau Marvell nyatakan perasaannya tapi kenapa harus ke aku emang tidak ada cewek lain apa.
“Olive.. kamu marah sama aku?” Tanya Marvell.
“Tidak kok aku mengantuk aku ingin cepat cepat pulang. Bisa agak di percepat tidak?” tanyaku.
“Baiklah.” jawabnya.
Beberapa menit
kemudian aku sampai di rumah, aku langsung masuk ke rumah dan tidak lupa untuk
mengucapkan salam terlebih dahulu.
“assalamualiakum nek?”
Sudah berkali kali aku mengucapkan salam tapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku langsung pergi ke kamar untuk tidur siang karena aku sudah lelah sekali.
“assalamualiakum nek?”
Sudah berkali kali aku mengucapkan salam tapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku langsung pergi ke kamar untuk tidur siang karena aku sudah lelah sekali.
Keesokan harinya
aku bangun kesiangan karena aku lupa memasang alarm di jam wekerku. Aku
langsung lari menuju kamar mandi untuk take a bath. Setelah aku mandi aku turun
ke bawah dan tampaknya rumah ini sepi tidak ada siapa-siapa. Sarapan saja belum
matang.
“nenek ke mana ya?” pikirku. Aku segera lari ke garasi dan aku lihat garasi tampak sepi.
“Ada apa ini sebenarnya?” tanyaku dalam hati.
“nenek ke mana ya?” pikirku. Aku segera lari ke garasi dan aku lihat garasi tampak sepi.
“Ada apa ini sebenarnya?” tanyaku dalam hati.
Aku pergi ke
sekolah naik taksi. Sampai di sana aku disambut oleh sahabat-sahabatku yang
berwajah ceria. Sedangkan aku bingung dengan keadaan rumahku yang sekaraang
ini.
“Hai Olive” sapa mereka.
“Hai” jawabku dengan melemparkan senyuman.
“Olive maafin perkataanku yang kemarin ya, aku khilaf setelah aku pikir-pikir aku memang sayang sama kamu tapi sayangku hanya sekedar sebagai sahabat dan tidak lebih dari itu.” ucap Marvell.
“Iya gak apa-apa kok.” jawabku.
“Olive aku juga minta maaf ya kemarin aku cuek sama kamu, karena kamu datang terlalu lama jadi aku sebal sama kamu.” ucap Karin.
“gak apa-apa kok guys, kalian ini menurutku kalian sahabat yang paling baik” jawabku.
“Makasih Olive” ucap mereka.
“Hai Olive” sapa mereka.
“Hai” jawabku dengan melemparkan senyuman.
“Olive maafin perkataanku yang kemarin ya, aku khilaf setelah aku pikir-pikir aku memang sayang sama kamu tapi sayangku hanya sekedar sebagai sahabat dan tidak lebih dari itu.” ucap Marvell.
“Iya gak apa-apa kok.” jawabku.
“Olive aku juga minta maaf ya kemarin aku cuek sama kamu, karena kamu datang terlalu lama jadi aku sebal sama kamu.” ucap Karin.
“gak apa-apa kok guys, kalian ini menurutku kalian sahabat yang paling baik” jawabku.
“Makasih Olive” ucap mereka.
Kami sekarang
kembali utuh seperti dulu tidak ada perselisihan lagi di antara kita. Dan
sepulang dari sekolah aku baru mengetahui dari sopirku bahwa keluargaku semua
tinggal ke paris dan aku diajak untuk tinggal ke sana dan mereka telah
membelikanku tiket untuk ke sana. Sahabat-sahabatku sedih mendengar berita itu
tapi bagaimana lagi masa aku tinggal di sini sendiri.
Selama 6 tahun
tinggal di paris aku mendapatkan sahabat baru di sana tapi aku tidak akan lupa
dengan sahabatku yang dulu. Sekarang umurku 19 tahun aku memilih untuk tinggal
sendiri di Jakarta dan aku kuliah di UNIVERSITAS INDONESIA di sana aku bertemu
dengan mereka sahabat-sahabatku dulu mereka tidak ada perubahan yang berubah
adalah mereka sudah punya pasangan masing-masing sedangkan aku belum. Kasihan
sekali aku ini.
Cerpen Karangan:
Khusnul Khotima
Facebook: facebook.com/khusnul.khotima.988
Facebook: facebook.com/khusnul.khotima.988
TEMAN PERTAMA DI HIDUPKU
Karya Sri Ayu
Aku hanya tertududuk terdiam
menundukan kepalaku, ya... seperti ini lah kehidupanku disekolah yang menurutku
sangat kejam ini. Bagaimana tidak ? semua anak membenciku karna aku seorang
putri yang profesi orang tuaku adalah seorang penjual susu kaleng keliling yang
memaksakan diri bersekolah disekolahan elit seperti ini, jika tidak karena
beasiswa yang
kudapat
mungkin aku sudah melawan perbuatan mereka yang menurutku sudah di luar batas
peri kemanusiaan.
***
Bel istirahat berbunyi semua anak berhamburan keluar terkecuali hanya aku yang tersisa diruangan yang bagaikan neraka ini, aku terduduk menunduk seluruh wajahku tertutup oleh rambut hitam panjangku. Cukup lama aku terdiam disini hingga pada saatnya aku merasa bosan, akhirnya aku putuskan untuk melangkah pergi keluar kelas.
***
Bel istirahat berbunyi semua anak berhamburan keluar terkecuali hanya aku yang tersisa diruangan yang bagaikan neraka ini, aku terduduk menunduk seluruh wajahku tertutup oleh rambut hitam panjangku. Cukup lama aku terdiam disini hingga pada saatnya aku merasa bosan, akhirnya aku putuskan untuk melangkah pergi keluar kelas.
Dengan berjalan menunduk menyusuri
trotoar kelas dan bertemu dengan para mulut kejam yang tak salah lagi sedang
membicarakanku, aku tidak peduli aku tetap melanjutkan langkahku. Sampai suatu
saat sesuatu mengenai kepalaku, benda itu terjatuh di bawah tepatnya dihadapan
kakiku, ternyata itu hanya botol air mineral yang tak berisi, aku memungut
botol itu dan memasukannya kedalam ember sampah yang berada disampingku. Saat
hendak memasukkan botol itu semua anak melempariku dengan tepung dan juga telur
aku hanya terdiam menunduk pasrah menerima perlakuan mereka.
Semua anak menghampiriku, salah satu dari mereka mendorong tubuhku hingga aku terjatuh ke lantai.
"bangunlah.... ayo bangun anak miskin!" ucap seorang murid pria yang mendorongku tadi
Aku hanya bisa menangis menunduk, semua anak memukuliku hingga seluruh wajahku memar.
Tak berseling lama tiba-tiba seseorang datang yang tak lain itu adalah ibu kim, guru wali kelasku.
"Hentikan semuanya!!!" teriak ibu Kim,
Sesaat semua murid yang mengelilingiku terkejut dan spontan berlari berhamburan memasuki ruangan kelasnya masing-masing.
Ibu Kim secepat mungkin mendekatiku dan membantuku berdiri, "Kau tak apa Melati ?" tanya ibu Kim lembut
"Tidak bu, aku baik-baik saja" jawabku menunduk
"Lebih baik kau obati dulu lukamu, dan ibu akan meminta seragam baru untukmu" tutur ibu Kim
"Tidak bu tidak usah, aku baik-baik saja, terima kasih" kataku
"Baiklah, kau akan diijinkan pulang sekarang, ibu yang akan bertanggung jawab"
Oh sungguh ini tak begitu buruk untukku, akhirnya aku bisa pulang lebih cepat juga mimpi aapa aku semalam sampai bisa beruntung seperti ini.
Aku mengangkat wajahku kulihat disebelah ibu Kim berdiri seorang anak pria berpakaian seragam dan tersenyum padaku, jelas saja dia bukan siswa sekolah ini aku pun baru melihatnya.
Ibu Kim berkata jika ia pun akan memasuki ruangan kelasku untuk mengenalkan murid baru, aku berjalan mengikuti ibu Kim tepatnya dibelakang murid pria baru itu
Sesampainya diruang kelas aku segera menuju tempat dudukku dan mengambil tas milikku, semua anak memandangku sinis meski aku tidak melihatnya langsung karna aku menundukan kepalaku ketika berjalan tapi aku bisa merasakannya.
***
Pagi yang begitu cerah, membuat bahagia siapapun orangnya yang melihat keindahannya, angin pagi berhembus kencang menerpa tubuhku. Langkah demi langkah aku tapaki hingga sampailah kedepan gerbang sekolahku.
Aku memasuki ruang kelasku, terlihat disana beberapa orang anak memandangku dengan sinis bahkan ketika aku melewati mereka, mereka menghalang jalanku dan mendorong tubuhku hingga terjatuh. hanya tawa kesenangan yang mereka dapatkan.
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya padaku, aku secepat mungkin memastikan orang itu, ternyata itu adalah murid baru yang kemarin aku bertemu dengannya.
"ayolah... bangun.." ucap pria itu yang akupun tak mengenalnya
Sontak semua anak merasa heran dan bingung,
"Fandy! apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang murid laki-laki padanya
tapi dia tak menghiraukannya
Aku tak menerima uluran tangan miliknya, aku berfikir dia pun pasti sama seperti anak-anak lain, akhirnya aku pergi berlari keluar kelas.
Aku menangis dibawah pohon ditaman, aku tak peduli bel pelajaran sekolah dimulai. Hatiku hancur kenapa juga aku harus dilahirkan oleh sepasang keluarga penjual susu kaleng keliling? kenapa aku tidak seperti mereka? tuhan tak adil!.
Sampai sekolah sepi ditinggalkan oleh penghuninya, aku masih tetap berada dibawah pohon itu terduduk dengan kaki menegak menompang tangan dan daguku pandanganku sayu kedepan.
Tiba-tiba seseorang memegang pundakku, aku menoleh
"kau..." ucapku
"yah ini aku, apa aku boleh duduk disampingmu ?" tanya pria itu
"Untuk apa kau kemari ? apa kau pun ingin melihat seberapa menyedihkannya aku ?" Tanyaku dingin
"Tidak! aku kemari ingin berkenalan denganmu...." jawab pria itu
"Lebih baik kau pergi saja, bukankah teman-teman kayamu juga sudah pergi meninggalkan sekolah ini?" tanyaku lagi kecut
"Biarlah, tapi aku ingin bersamamu...." jawab nya
aku memandangnya muak secepat mungkin aku pergi meninggalkannya tapi ia mengejarku.
"Aku ingin menjadi temanmu, tak bisa kah kau terima aku menjadi temanmu?" tanya pria itu mengikuti dibelakangku
aku tak memperdulikannya, aku berlari berusaha menghindar darinya tapi ia tetap mengejarku.
Keesokan harinya anak pria murid baru itu tetap mengikutiku kemanapun aku pergi, dan anehnya pagi itu tak ada ejekan yang terlontar dari mulut semua murid disini tidak seperti biasanya, "Aku yang mengencam mereka untuk tidak memperlakukanmu dengan buruk!" tuturnya padaku ketika aku sedangterduduk sendiri dibangku ruang kelas "Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti dengan perkataanya
"Aku ingin menjadi temanmu... apa kau benar-benar membenciku ? aku hanya ingin menjadi temanmu tak lebih!"
"kenapa harus aku?" tanyaku "Dan asal kau tau aku tidak butuh siapapun disekolah ini termasuk seorang teman!" lanjutku tegas
"Tapi kenapa?" tanyanya
"Apa kau tak mengerti atau memang pura-pura tidak mengerti?" semua orang orang disini tak ada yang baik satu pun! apa itu yang selalu dilakukan oleh orang-orang kaya terhadap orang miskin sepertiku?" tanyaku dengan kedua bolamataku menatapnya
"Tidak semua orang seperti itu...." jawabnya
"Tidak?" tanyaku " Apa ada didunia ini orang yang memihak kepada orang miskin sepertiku ?"lanjutku menangis
"Ada!" jawabnya "Akulah orangnya, aku berada dipihakmu. Tak peduli siapa kamu dan siapa aku ... Yang jelas aku ingin berteman denganmu" Lanjutnya
Aku sejenak terdiam memandang matanya dalam.
"apa kau tidak malu jika berteman denganku?" Tanyaku masih memandang matanya
"Malu? apa maksudmu?" tak peduli siapa kamu dan siapa aku bagiku itu tak penting bukankah berteman dengan siapapun bisa tanpa harus memandang derajat orang tersebut?" jelasnya
Aku tersenyu padanya, ia pun membalas senyumanku dengan manis.
Semua anak menghampiriku, salah satu dari mereka mendorong tubuhku hingga aku terjatuh ke lantai.
"bangunlah.... ayo bangun anak miskin!" ucap seorang murid pria yang mendorongku tadi
Aku hanya bisa menangis menunduk, semua anak memukuliku hingga seluruh wajahku memar.
Tak berseling lama tiba-tiba seseorang datang yang tak lain itu adalah ibu kim, guru wali kelasku.
"Hentikan semuanya!!!" teriak ibu Kim,
Sesaat semua murid yang mengelilingiku terkejut dan spontan berlari berhamburan memasuki ruangan kelasnya masing-masing.
Ibu Kim secepat mungkin mendekatiku dan membantuku berdiri, "Kau tak apa Melati ?" tanya ibu Kim lembut
"Tidak bu, aku baik-baik saja" jawabku menunduk
"Lebih baik kau obati dulu lukamu, dan ibu akan meminta seragam baru untukmu" tutur ibu Kim
"Tidak bu tidak usah, aku baik-baik saja, terima kasih" kataku
"Baiklah, kau akan diijinkan pulang sekarang, ibu yang akan bertanggung jawab"
Oh sungguh ini tak begitu buruk untukku, akhirnya aku bisa pulang lebih cepat juga mimpi aapa aku semalam sampai bisa beruntung seperti ini.
Aku mengangkat wajahku kulihat disebelah ibu Kim berdiri seorang anak pria berpakaian seragam dan tersenyum padaku, jelas saja dia bukan siswa sekolah ini aku pun baru melihatnya.
Ibu Kim berkata jika ia pun akan memasuki ruangan kelasku untuk mengenalkan murid baru, aku berjalan mengikuti ibu Kim tepatnya dibelakang murid pria baru itu
Sesampainya diruang kelas aku segera menuju tempat dudukku dan mengambil tas milikku, semua anak memandangku sinis meski aku tidak melihatnya langsung karna aku menundukan kepalaku ketika berjalan tapi aku bisa merasakannya.
***
Pagi yang begitu cerah, membuat bahagia siapapun orangnya yang melihat keindahannya, angin pagi berhembus kencang menerpa tubuhku. Langkah demi langkah aku tapaki hingga sampailah kedepan gerbang sekolahku.
Aku memasuki ruang kelasku, terlihat disana beberapa orang anak memandangku dengan sinis bahkan ketika aku melewati mereka, mereka menghalang jalanku dan mendorong tubuhku hingga terjatuh. hanya tawa kesenangan yang mereka dapatkan.
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya padaku, aku secepat mungkin memastikan orang itu, ternyata itu adalah murid baru yang kemarin aku bertemu dengannya.
"ayolah... bangun.." ucap pria itu yang akupun tak mengenalnya
Sontak semua anak merasa heran dan bingung,
"Fandy! apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang murid laki-laki padanya
tapi dia tak menghiraukannya
Aku tak menerima uluran tangan miliknya, aku berfikir dia pun pasti sama seperti anak-anak lain, akhirnya aku pergi berlari keluar kelas.
Aku menangis dibawah pohon ditaman, aku tak peduli bel pelajaran sekolah dimulai. Hatiku hancur kenapa juga aku harus dilahirkan oleh sepasang keluarga penjual susu kaleng keliling? kenapa aku tidak seperti mereka? tuhan tak adil!.
Sampai sekolah sepi ditinggalkan oleh penghuninya, aku masih tetap berada dibawah pohon itu terduduk dengan kaki menegak menompang tangan dan daguku pandanganku sayu kedepan.
Tiba-tiba seseorang memegang pundakku, aku menoleh
"kau..." ucapku
"yah ini aku, apa aku boleh duduk disampingmu ?" tanya pria itu
"Untuk apa kau kemari ? apa kau pun ingin melihat seberapa menyedihkannya aku ?" Tanyaku dingin
"Tidak! aku kemari ingin berkenalan denganmu...." jawab pria itu
"Lebih baik kau pergi saja, bukankah teman-teman kayamu juga sudah pergi meninggalkan sekolah ini?" tanyaku lagi kecut
"Biarlah, tapi aku ingin bersamamu...." jawab nya
aku memandangnya muak secepat mungkin aku pergi meninggalkannya tapi ia mengejarku.
"Aku ingin menjadi temanmu, tak bisa kah kau terima aku menjadi temanmu?" tanya pria itu mengikuti dibelakangku
aku tak memperdulikannya, aku berlari berusaha menghindar darinya tapi ia tetap mengejarku.
Keesokan harinya anak pria murid baru itu tetap mengikutiku kemanapun aku pergi, dan anehnya pagi itu tak ada ejekan yang terlontar dari mulut semua murid disini tidak seperti biasanya, "Aku yang mengencam mereka untuk tidak memperlakukanmu dengan buruk!" tuturnya padaku ketika aku sedangterduduk sendiri dibangku ruang kelas "Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti dengan perkataanya
"Aku ingin menjadi temanmu... apa kau benar-benar membenciku ? aku hanya ingin menjadi temanmu tak lebih!"
"kenapa harus aku?" tanyaku "Dan asal kau tau aku tidak butuh siapapun disekolah ini termasuk seorang teman!" lanjutku tegas
"Tapi kenapa?" tanyanya
"Apa kau tak mengerti atau memang pura-pura tidak mengerti?" semua orang orang disini tak ada yang baik satu pun! apa itu yang selalu dilakukan oleh orang-orang kaya terhadap orang miskin sepertiku?" tanyaku dengan kedua bolamataku menatapnya
"Tidak semua orang seperti itu...." jawabnya
"Tidak?" tanyaku " Apa ada didunia ini orang yang memihak kepada orang miskin sepertiku ?"lanjutku menangis
"Ada!" jawabnya "Akulah orangnya, aku berada dipihakmu. Tak peduli siapa kamu dan siapa aku ... Yang jelas aku ingin berteman denganmu" Lanjutnya
Aku sejenak terdiam memandang matanya dalam.
"apa kau tidak malu jika berteman denganku?" Tanyaku masih memandang matanya
"Malu? apa maksudmu?" tak peduli siapa kamu dan siapa aku bagiku itu tak penting bukankah berteman dengan siapapun bisa tanpa harus memandang derajat orang tersebut?" jelasnya
Aku tersenyu padanya, ia pun membalas senyumanku dengan manis.
Comments
Post a Comment
komentarmu akan aku terima, terimakasih.