Puisi Anak Sekolah

Selamat datang di blog aku.



My Best Friend
Pada pukul 04:30 jam bekerkui berbunyi. KRIING!! KRIING!! Itu sangat membuat telingaku sakit, Aku segera beranjak bangun dari tempat tidur, dan segera turun ke bawah untuk mengambil air wudu lalu melaksanakan salat subuh secara berjamaah dengan keluargaku. Setelah salat subuh kami semua sarapan bersama. Aku bercerita ke keluargaku bahwa aku mempunyai sahabat baru di sekolah.
“Ma, pa, nek. kemarin di sekolah ada murid baru namanya Icha, dia pindahan dari bandung. Dia
cepat akrab denganku dan dia menjadi sahabatku sekarang.” ucapku.
“Oh ya? bagus dong, kalau kamu sekarang punya sahabat baru.” ucap Mama.
“Kapan-kapan kamu ajak dia main ke rumah.” ucap Papa.
“Pasti pa, secepatnya aku akan bawa dia ke sini” ucapku.
Jam sudah menunjukkan pukul 06. 00, aku bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Aku harus berangkat lebih awal dari teman temanku karena aku yang membawa kunci kelas. Jam sudah menunjukkan pukul 06. 15 aku segera turun dan berpamitan ke orangtuaku.
“Ma, pa Olive berangkat ke sekolah dulu ya? mungkin Olive nanti pulang terlambat karena Olive harus ke toko buku dulu.” ucapku sambil menciup tangan kedua orangtuaku.
“Iya, tapi jangan lama-lama ya. Sudah sana berangkat pak Rahmat sudah menunggu dari tadi.” ucap Papa.
“Baik pa, Olive berangkat dulu ya assalamualiakum.” jawabku.
“waalaikumsalam.” jawab kedua orangtuaku.
Aku dari kecil sudah diajari oleh kedua orangtuaku untuk selalu mengucapkan salam sebelum keluar rumah atau masuk rumah. Aku segera pergi ke garasi untuk menemui pak Rahmat (supirku) dan ternyata benar kata kedua orangtuaku kalau pak Rahmat sudah menungguku. Aku segerah berlari dan masuk mobil.
“Pagi neng” ucap supirku.
“Pagi pak” balasku.
“Mau berangkat sekarang neng?”
“iyalah sekarang masa besok”
Selama 10 menit perjalanan ke sekolah akhirnya aku sampai juga. Aku segerah berlari ke kelas sambil berharap agar masih belum ada anak yang datang. Dan ternyata sudah ada anak di sana yaitu Icha, Marvell dan Kirana mereka semua sahabatku yang sangat rajin, aku segera menghampiri mereka.
“hai.” sapaku
“hai Olive, akhirnya kamu datang juga, kita sudah berpikir kalau kamu hari ini tidak masuk sekolah. Dan ternyata kamu masuk. Untung saja.” ucap Icha.
“iya maaf, di jalan macet jadi aku datang ke sini agak lama. Maaf ya aku membuat kalian nunggu lama. “jawabku sambil merasa bersalah.
“iya tidak apa-apa liv.” jawab Marvell.
“ya sudah buruan bukain pintunya aku mau duduk cape.” jawab Kirana dengan nada kesal.
“iya” jawabku, kemudian aku membukakan pintu kelas.
Kami berempat segera masuk dan menaruh tas setelah itu kami pergi ke kantin tapi, Kirana tidak mau ikut ke kantin hari ini. Aku tidak tahu penyebabnya apa gara-gara aku ya?
“Kalian mau makan apa? biar aku pesanin.” Tanya Marvell.
“Aku minum saja deh lagi tidak nafsu makan.” jawabku.
“Mau minum apa kamu?” Tanya Marvell.
“Jus avocado saja.” jawabku.
“Kalau kamu Icha?”
“Mmm… aku sama kayak Olive aja deh.” jawab Icha.
Setelah menunggu beberapa menit datang juga pesanan kita. KRIING!! KRIING!! Belum sempat minum, bel sudah berbunyi dengan terpaksa aku langsung kembali ke kelas. Di kelas suasana masih rame, ya maklum kalau belum ada guru yang datang ada yang bergosip, lempar-lempar kertas, benyanyi pokoknya rame deh. Beberapa menit kemudian Bu Syila datang.
“Good Morning students” sapa Bu Syila
“Good morning mom”
“right, now we will study about introduction.” ucap Bu Syila.
Dua jam telah berlalu. Bel telah berbunyi sekarang jam telah menunjukkan pukul 14:00. semua telah pulang ke rumah masing masing. Sedangkan aku masih di sekolah karena pak rahmat belum datang, aku sudah menelfonnya berkali kali tetapi tidak ada jawaban. Sudah beberapa menit aku menunggu pak rahmat tidak datang juga.
“Olive…”
“eh Marvell.”
“kenapa kamu belum pulang?” Tanya Marvell.
“iya, pak Rahmat belum datang dari tadi.” jawabku.
“ya udah kamu aku anterin pulang ya?” Tanya Marvell.
“tidak perlu aku bisa naik taksi kok. Lagian aku harus ke toko buku dulu aku mau beli buku” jawabku.
“sudah tidak apa-apa nanti aku anterin kamu ke toko buku terus aku anterin kamu pulang” jawab Marvell.
Hampir 5 menit Marvell memaksaku untuk pulang bareng sama dia. Tapi setelah aku pikir-pikir kayaknya aku tidak mungkin nolak tawarannya karena sampai sekarang pak Rahmat belum datang juga mungkin dia lupa untuk menjemputku, aku segera masuk ke mobil Marvell.
“Olive…”
“apa?” jawabku.
“apakah kamu cuma menganggapku hanya sebagai sahabat saja?” Tanya Marvell.
“maksud kamu apa?” jawabku dengan nada bingung.
“aku suka sama kamu Olive.” jelas Marvell
“aku tidak berkata sedikit pun dan aku membuang muka ke Marvell.” Bukannya aku tidak suka kalau Marvell nyatakan perasaannya tapi kenapa harus ke aku emang tidak ada cewek lain apa.
“Olive.. kamu marah sama aku?” Tanya Marvell.
“Tidak kok aku mengantuk aku ingin cepat cepat pulang. Bisa agak di percepat tidak?” tanyaku.
“Baiklah.” jawabnya.
Beberapa menit kemudian aku sampai di rumah, aku langsung masuk ke rumah dan tidak lupa untuk mengucapkan salam terlebih dahulu.
“assalamualiakum nek?”
Sudah berkali kali aku mengucapkan salam tapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku langsung pergi ke kamar untuk tidur siang karena aku sudah lelah sekali.
Keesokan harinya aku bangun kesiangan karena aku lupa memasang alarm di jam wekerku. Aku langsung lari menuju kamar mandi untuk take a bath. Setelah aku mandi aku turun ke bawah dan tampaknya rumah ini sepi tidak ada siapa-siapa. Sarapan saja belum matang.
“nenek ke mana ya?” pikirku. Aku segera lari ke garasi dan aku lihat garasi tampak sepi.
“Ada apa ini sebenarnya?” tanyaku dalam hati.
Aku pergi ke sekolah naik taksi. Sampai di sana aku disambut oleh sahabat-sahabatku yang berwajah ceria. Sedangkan aku bingung dengan keadaan rumahku yang sekaraang ini.
“Hai Olive” sapa mereka.
“Hai” jawabku dengan melemparkan senyuman.
“Olive maafin perkataanku yang kemarin ya, aku khilaf setelah aku pikir-pikir aku memang sayang sama kamu tapi sayangku hanya sekedar sebagai sahabat dan tidak lebih dari itu.” ucap Marvell.
“Iya gak apa-apa kok.” jawabku.
“Olive aku juga minta maaf ya kemarin aku cuek sama kamu, karena kamu datang terlalu lama jadi aku sebal sama kamu.” ucap Karin.
“gak apa-apa kok guys, kalian ini menurutku kalian sahabat yang paling baik” jawabku.
“Makasih Olive” ucap mereka.
Kami sekarang kembali utuh seperti dulu tidak ada perselisihan lagi di antara kita. Dan sepulang dari sekolah aku baru mengetahui dari sopirku bahwa keluargaku semua tinggal ke paris dan aku diajak untuk tinggal ke sana dan mereka telah membelikanku tiket untuk ke sana. Sahabat-sahabatku sedih mendengar berita itu tapi bagaimana lagi masa aku tinggal di sini sendiri.
Selama 6 tahun tinggal di paris aku mendapatkan sahabat baru di sana tapi aku tidak akan lupa dengan sahabatku yang dulu. Sekarang umurku 19 tahun aku memilih untuk tinggal sendiri di Jakarta dan aku kuliah di UNIVERSITAS INDONESIA di sana aku bertemu dengan mereka sahabat-sahabatku dulu mereka tidak ada perubahan yang berubah adalah mereka sudah punya pasangan masing-masing sedangkan aku belum. Kasihan sekali aku ini.

Cerpen Karangan: Khusnul Khotima
Facebook: facebook.com/khusnul.khotima.988














TEMAN PERTAMA DI HIDUPKU
Karya Sri Ayu

Aku hanya tertududuk terdiam menundukan kepalaku, ya... seperti ini lah kehidupanku disekolah yang menurutku sangat kejam ini. Bagaimana tidak ? semua anak membenciku karna aku seorang putri yang profesi orang tuaku adalah seorang penjual susu kaleng keliling yang memaksakan diri bersekolah disekolahan elit seperti ini, jika tidak karena beasiswa yang
kudapat mungkin aku sudah melawan perbuatan mereka yang menurutku sudah di luar batas peri kemanusiaan.
***

Bel istirahat berbunyi semua anak berhamburan keluar terkecuali hanya aku yang tersisa diruangan yang bagaikan neraka ini, aku terduduk menunduk seluruh wajahku tertutup oleh rambut hitam panjangku. Cukup lama aku terdiam disini hingga pada saatnya aku merasa bosan, akhirnya aku putuskan untuk melangkah pergi keluar kelas.
Dengan berjalan menunduk menyusuri trotoar kelas dan bertemu dengan para mulut kejam yang tak salah lagi sedang membicarakanku, aku tidak peduli aku tetap melanjutkan langkahku. Sampai suatu saat sesuatu mengenai kepalaku, benda itu terjatuh di bawah tepatnya dihadapan kakiku, ternyata itu hanya botol air mineral yang tak berisi, aku memungut botol itu dan memasukannya kedalam ember sampah yang berada disampingku. Saat hendak memasukkan botol itu semua anak melempariku dengan tepung dan juga telur aku hanya terdiam menunduk pasrah menerima perlakuan mereka.
Semua anak menghampiriku, salah satu dari mereka mendorong tubuhku hingga aku terjatuh ke lantai.
"bangunlah.... ayo bangun anak miskin!" ucap seorang murid pria yang mendorongku tadi

Aku hanya bisa menangis menunduk, semua anak memukuliku hingga seluruh wajahku memar.

Tak berseling lama tiba-tiba seseorang datang yang tak lain itu adalah ibu kim, guru wali kelasku.
"Hentikan semuanya!!!" teriak ibu Kim,

Sesaat semua murid yang mengelilingiku terkejut dan spontan berlari berhamburan memasuki ruangan kelasnya masing-masing.

Ibu Kim secepat mungkin mendekatiku dan membantuku berdiri, "Kau tak apa Melati ?" tanya ibu Kim lembut
"Tidak bu, aku baik-baik saja" jawabku menunduk
"Lebih baik kau obati dulu lukamu, dan ibu akan meminta seragam baru untukmu" tutur ibu Kim
"Tidak bu tidak usah, aku baik-baik saja, terima kasih" kataku
"Baiklah, kau akan diijinkan pulang sekarang, ibu yang akan bertanggung jawab"

Oh sungguh ini tak begitu buruk untukku, akhirnya aku bisa pulang lebih cepat juga mimpi aapa aku semalam sampai bisa beruntung seperti ini.

Aku mengangkat wajahku kulihat disebelah ibu Kim berdiri seorang anak pria berpakaian seragam dan tersenyum padaku, jelas saja dia bukan siswa sekolah ini aku pun baru melihatnya.
Ibu Kim berkata jika ia pun akan memasuki ruangan kelasku untuk mengenalkan murid baru, aku berjalan mengikuti ibu Kim tepatnya dibelakang murid pria baru itu

Sesampainya diruang kelas aku segera menuju tempat dudukku dan mengambil tas milikku, semua anak memandangku sinis meski aku tidak melihatnya langsung karna aku menundukan kepalaku ketika berjalan tapi aku bisa merasakannya.
***

Pagi yang begitu cerah, membuat bahagia siapapun orangnya yang melihat keindahannya, angin pagi berhembus kencang menerpa tubuhku. Langkah demi langkah aku tapaki hingga sampailah kedepan gerbang sekolahku.

Aku memasuki ruang kelasku, terlihat disana beberapa orang anak memandangku dengan sinis bahkan ketika aku melewati mereka, mereka menghalang jalanku dan mendorong tubuhku hingga terjatuh. hanya tawa kesenangan yang mereka dapatkan.
Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangannya padaku, aku secepat mungkin memastikan orang itu, ternyata itu adalah murid baru yang kemarin aku bertemu dengannya.
"ayolah... bangun.." ucap pria itu yang akupun tak mengenalnya

Sontak semua anak merasa heran dan bingung,
"Fandy! apa yang sedang kau lakukan?" tanya seorang murid laki-laki padanya
tapi dia tak menghiraukannya

Aku tak menerima uluran tangan miliknya, aku berfikir dia pun pasti sama seperti anak-anak lain, akhirnya aku pergi berlari keluar kelas.

Aku menangis dibawah pohon ditaman, aku tak peduli bel pelajaran sekolah dimulai. Hatiku hancur kenapa juga aku harus dilahirkan oleh sepasang keluarga penjual susu kaleng keliling? kenapa aku tidak seperti mereka? tuhan tak adil!.

Sampai sekolah sepi ditinggalkan oleh penghuninya, aku masih tetap berada dibawah pohon itu terduduk dengan kaki menegak menompang tangan dan daguku pandanganku sayu kedepan.

Tiba-tiba seseorang memegang pundakku, aku menoleh
"kau..." ucapku
"yah ini aku, apa aku boleh duduk disampingmu ?" tanya pria itu
"Untuk apa kau kemari ? apa kau pun ingin melihat seberapa menyedihkannya aku ?" Tanyaku dingin
"Tidak! aku kemari ingin berkenalan denganmu...." jawab pria itu
"Lebih baik kau pergi saja, bukankah teman-teman kayamu juga sudah pergi meninggalkan sekolah ini?" tanyaku lagi kecut
"Biarlah, tapi aku ingin bersamamu...." jawab nya

aku memandangnya muak secepat mungkin aku pergi meninggalkannya tapi ia mengejarku.
"Aku ingin menjadi temanmu, tak bisa kah kau terima aku menjadi temanmu?" tanya pria itu mengikuti dibelakangku
aku tak memperdulikannya, aku berlari berusaha menghindar darinya tapi ia tetap mengejarku.

Keesokan harinya anak pria murid baru itu tetap mengikutiku kemanapun aku pergi, dan anehnya pagi itu tak ada ejekan yang terlontar dari mulut semua murid disini tidak seperti biasanya, "Aku yang mengencam mereka untuk tidak memperlakukanmu dengan buruk!" tuturnya padaku ketika aku sedangterduduk sendiri dibangku ruang kelas "Apa maksudmu?" tanyaku tak mengerti dengan perkataanya
"Aku ingin menjadi temanmu... apa kau benar-benar membenciku ? aku hanya ingin menjadi temanmu tak lebih!"
"kenapa harus aku?" tanyaku "Dan asal kau tau aku tidak butuh siapapun disekolah ini termasuk seorang teman!" lanjutku tegas
"Tapi kenapa?" tanyanya
"Apa kau tak mengerti atau memang pura-pura tidak mengerti?" semua orang orang disini tak ada yang baik satu pun! apa itu yang selalu dilakukan oleh orang-orang kaya terhadap orang miskin sepertiku?" tanyaku dengan kedua bolamataku menatapnya
"Tidak semua orang seperti itu...." jawabnya
"Tidak?" tanyaku " Apa ada didunia ini orang yang memihak kepada orang miskin sepertiku ?"lanjutku menangis
"Ada!" jawabnya "Akulah orangnya, aku berada dipihakmu. Tak peduli siapa kamu dan siapa aku ... Yang jelas aku ingin berteman denganmu" Lanjutnya

Aku sejenak terdiam memandang matanya dalam.
"apa kau tidak malu jika berteman denganku?" Tanyaku masih memandang matanya
"Malu? apa maksudmu?" tak peduli siapa kamu dan siapa aku bagiku itu tak penting bukankah berteman dengan siapapun bisa tanpa harus memandang derajat orang tersebut?" jelasnya

Aku tersenyu padanya, ia pun membalas senyumanku dengan manis.












 

Comments

Popular posts from this blog

Puisi Bahasa Lampung

Pengertian Puisi, Pattun dan Pepaccur Lampung

SISTEM KEPERCAYAAN dan KEDATANGAN DEUTRO DAN PROTO MELAYU KE INDONESIA