Perhatian Terhadap Ibu Saat Hamil
Selamat datang di blog aku.
4. Perhatian Terhadap Ibu Saat Hamil
Bentuk
perhatian itu adalah jangan sampai ada yang membahayakan kehamilan atau
penyebab buruknya janin, seperti :
1. Minum
ramu-ramuan, obat-obatan, minuman oplosan.
2.
Melakukan pekerjaan yang memberatkan.
3.
Merokok yang dilakukan oleh ibu dan
suami.
4. Terlalu
capek, mabuk, (anak yang lahir itu dilahirkan oleh Ibu yang sering
mabuk-mabukan, karena janin akan makan dengan sari-sari makanan ibunya).
BERITA GEMBIRA SAAT MELAHIRKAN
Jika
seorang muslim diberi rizki (lahirnya anak) maka disunahkan menyebarkan kabar
gembira.
Memberitakan
berita gembira itu bisa terjadi ketika waktu lahirnya seorang anak, sebagaimana
Allah berfirman:
-
Dalam Al-Qur’an : “Hai Zakaria, kami
akan memberi kabar baik kepadamu dengan seorang anak yang kan diberi nama
Yahya” (Q.S. Maryam: 7).
-
Allah SWT. Berfirman : “ Maka kami beri
kabar gembira ia dengan seorang anak yang sangat sabar (Ismail)”. (Q.S. Ash-Shaaffat:
10)
-
Allah SWT. Berfirman : “ Dan kami beri
kabar gembira ia dengan kelahiran seorang anak (Ishak) seorang Nabi yang
termasuk orang-orang yang soleh”. (Q.S.Ash-Shaaffat:112)
-
Allah SWT. Berfirman : “Ketika Para
Malaikat berkata: “ Wahai Maryam, sesungguhnya Allag memberikan kabar gembira
kepadamu dengan sebuah kalimat (firman) dari-Nya, yaitu seorang putra yang
bernama Al Masih Isa Putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat”
(Q.S. Ali Imron: 45).
Sujud Syukur :
Disunahkan
sujud syukur kepada seorang muslim disaat mendapatkan nikmat, sujud syukur
memang di syariatkan akan tetapi sangat dianjurkan ketika saat mendapatkan
nikmat atau tercegah dari bahaya sujud syukur hanya sekali saja, seperti Sujud
Tilawah “Nabi Muhammad ketika datang kepadanya sesuatu yang menyenangkan maka
Nabi Sujud Syukur”. (HR. Abu Daud).
Dan
bersabda Nabi Muhammad SAW: “Aku meminta kepada Tuhanku dan aku memberi
syafa’at kepada umatku maka Allah memberi ku kepada sepertiga umatku, lalu aku
bersujud kepada Tuhanku, kemudian aku mengangkat kepalaku , lalu meminta kepada
Tuhanku untuk umatku, lalu Allah memberiku sepertiga umatku, aku sujud syukur,
kemudian aku mengangkatkan kepadaku dan meminta kepada Tuhan untuk umatku, lalu
Allah memberiku sepertiga yang akhir, aku sujud syukur kepada Tuhanku.” (HR.
Abu Daud dari hadist Saad bin Waqos).
-
Abu Bakar Sidiq pernah bersujud ketika
Fathul Yama Mah.
-
Kaab Bin Malik pernah sujud syukur
ketika Allah memberi kabar gembira dengan diterima taubatnya.
5.
Keutamaan
Mendidik anak-anak perempuan dalam Islam
Sebuah
penyesalan yang pernah dilakukan oleh sebagian manusia ketika mendapatkan anak
perempuan, mereka tidak menyukainya, ini adalah ahlak orang-orang Jahiliah yang
di cela oleh Allah SWT. Allah berfirman: “Ketika seorang dari mereka diberi
kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam)
dan ia sangat marah, dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk
yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung)
kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah hidup-hidup, ingatlah langkah
buruk yang mereka tetpkan itu”.(Q.S. An-Nahl: 58-59).
Manusia
tidak mengetahui mana yang baik, Allah SWT. berfirman : “Jika kamu tidak
menyukai mereka (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai
sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak kepadanya.” (Q.S. An Nisaa’:19).
Begitulah
seorang perempuan di dalam dirinya terkadang banyak kebaikan-kebaikan dunia dan
akhirat, kebencian terhadap perempuan bisa membenci apa-apa yang diridhoi
Allah.
Sebagian
manusia ada yang memperkerjakan istrinya dengan buruk karena ia melahirkan anak
perempuan, terkadang membiarkannya, mentalaknya, atau berlaku buruk kepadanya.
Tidakkah
ia takut kepada siksa Allah atas kezhalimannya kepada istrinya, coba pikirkan.
Apakah mendapatkan anak itu dari istrinya atau dari Allah? Bukankah kebencian,
mengeluh, tidak ridho itu kembali kepada Allah?
Ketahuilah….
Allah memberi rizki anak-anak perempuan kepada hamba yang lebih mulia dari
kamu, seperti Nabi Luth, Syuaib Alaihissalam, Rasulluloh memiliki anak
laki-laki tapi tidak ada yang hidup, Allah memberkahi anak perempuannya
“Fatimah” dan keturunannya.
Sebagian
kata-kata yang digemari meriwayatkan : “Ada seorang laki-laki Arab digelari
dengan Abi Hamzah Al dobbi, meninkah dengan seorang perempuan, berkeinginan
melahirkan anak laki-laki tapi ternyata anak perempuan yang lahir, ia
meninggalkan istrinya karena melahirkan anak perempuan, ia bermalam ditempat
yang lain, kemudian ia lewat di satu hari dengan diam-diam, istrinya
bersendagurau/bercanda dengan anak perempuannya dengan berkata: “Apakah Bapak
Hamzah tidak mau datang kepada kami menaungi di dalam rumah ini yang diliputi
kemarahan. Ketahuilah: Kami tidak melahirkan anak-anak, demi Allah itu semua
bukan kekuasaan kami, kami hanya mengambil apa yang diberikan Allah. Kami
bagaikan bumi untuk ditanam, kami menumbuhkan apa yang sudah di semai
didalamnya. Bapak Hamzah mendengarkan itu sehingga terenyuh, timbulah kasih
sayang keayahan, ia masuk rumah dan mencium kepada istri dan anaknya.”
Islam
menjadikan jalan menuju Surga dalam mendidik anak-anak perempuan.
Diriwayatkanlah Jabir bin Abdillah, ia berkata : “Aku mendengar Rasulluloh SAW
bersabda : “Barang siapa memiliki tiga anak perempuan ia mengurusinya,
mengasihinya, mendidiknya, menikahkannya, maka ia pantas mendapatkan Surga
tanpa terkecuali.” Rosul ditanya : “Ya Rasul bagaimana dua?, Rasullulah
menjawab : “Walau dua”.
Dari
Anas Rasulluloh SAW bersabda : “Siapa yang memelihara dua anak perempuan sampai
dewasa maka nanti pada hari kiamat ia bersamaku, Rosulluloh menggenggam
jari-jari tangannya”. Dalam satu riwayat (lafad) aku masuk Surga bersamanya
seperti dua jari ini, ia mengisyarohkan dengan jari tengah dan telunjuk.
Keutamaan
mendidik satu anah perempuan : “ Ia tidak menyakitinya, tidak merendahkannya,
tidak memilih anak laki-laki darinya, maka Allah memasukkan ia ke Surga.” (HR.
Abu Daud).
Tentang
keutamaan mendidik dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, Anas bin
Malik meriwayatkan: “Ia berkata, “Bersabda Rasulluloh SAW : “Barang siapa
memelihara dua anak perempuan atau tiga, atau dua saudara perempuan atau tiga
sampai ia menjadikan anak angkat atau mati meninggalkannya maka aku
(Rosullulah) bersamanya di Surga seperti dua jari ini, mengisyarohkan dengan
jari tengah dan telunjuk.”
(Yabin)
maksudnya salah satu dari mereka sudah tidak dipelihara lagi (anak angkat).
Berkata Ibnu Batol RA: “ Hak bagi yang mendengarkan hadis ini untuk
mengamalkan, supaya mendapat kasih sayang Nabi SAW di Surga, tidak ada tempat
yang terbaik di Surga yang melebihi tempat Nabi SAW.”
6.
Azan
di Telinga Bayi
Sebagian
kesunahan-kesunahan bagi orang Islam adalah mengazankan ditelinga bayi, dari
Abi Rofi dari ayahnya ia berkata : “Aku melihat Rasulluloh SAW mengazankan
telinga Hasan bin Ali ketika Fatimah melahirkan dengan sholat”. (HR. Abu Daud).
Berkata
An Nawawi : “Segolongan dari sahabat-sahabat kami berkata: “Disunahkan Azan di
telinga sebelah kanan, dan Iqomah sebelah kiri”.
Berkata
Ibnu Qoyim : “Rahasia Azan : menjadikan awal sesuatu mengetuk pendengaran
manusia dengan kalimat-kalimat kebesaran, keagungan Tuhan dan Syahadat yang ia
masuk Islam dengannya. Syahadat seperti Talkir yang memiliki Syiar Islam ketika
masuk ke alam dunia, sebagaimana kalimat tauhid di talkirkan ketika ia keluar
dari dunia. Tidak dipungkiti lagi masuk atau sampainya Azan kehatinya dapat
berpengaruh dengannya. Jika saja tidak dirasakan dengan Faedah yang lain.
Pengaruh yang lainnya adalah Syetan lari karena mendengar kalimat Azan.
7.
Sebagian
Kesunahan-kesunahan bagi seorang muslim untuk mengamalkannya adalah Sunnah
Tahnik.
Tahnik
adalah mengunyah kurma, kemudian menggosok-gosokkannya dengan menyuapkan ke
dalam mulutnya (bayi).
Abu
Musa Al Asy ari meriwayatkan : “Ia berkata : “Aku mempunyai seorang anak aku
datang kepada Nabi, maka ia memberi Nama “Ibrohim” lalu ia mentahnik dengan
sebuah kurma dan mendo’akannya dengan keberkahan.
Asma’
Binti Abi Bakar meriwayatkan: “Ketika melahirkan Abdullah bin Jober , ia
berkata : “Aku datang kepada Rosulluloh SAW dengannya, aku letakkan ia di
ruangannya kemudian Rosulluloh berdo’a dengan mengunyah kurma lalu meneteskan
ke mulutnya awal sesuatu yang masuk di perut anaknya dalah ludah Rosulluloh
SAW, kemudian mentahnik dengan kurma, mendo’akan meminta barokah.”
Tahnik
dilaksanakan setelah kelahiran, maksudnya : “Agar anak berlatih untuk dapat
bisa makan, dan kuat.
Ibnu
Hajar berkata: “Yang lebih utama dengan kurma, jika tidak ada kemudahan , maka
dengan Rutob (Kurma hampir masak), kalau tidak ada dengan sesuatu yang
manis-manis madu lebih baik selain kurma.
Sebagian
dalil-dalil syariat tahnik ketika melahirkan dan kesunahan pada anak-anak
adalah bahwasanya Anas bin Malik berkata : “ Ibnu Abi Tolhah mengadu-adu lalu
keluar Abu Tolhah, ia menggenggam anak itu, ketika Abu Tolhah pulang berkata:
“Apa yang dilakukan oleh anakku, Umi Sulaim berkata : “ Ia menempati suatu
tempat lalu aku suguhkan makanan malam dan ia makan kemudian terjadilah sesuatu
dari itu, ketika selesai berkata Umi Sulaim: “ Lihat anakku !!!” ketika subuh
Abitolhah datang kepada Rasulluloh dengan mengabarkan kejadian itu, Rosulluloh
berkata : “Apakah kau beristirahat di malam hari? Abi Tolhah menjawab : “Ia”, berkata
Rosullulah : “Ya Allah berkahi keduanya di malamnya, kemudian Umi Sulaim
melahirkan anak laki-laki, ia datang kepada Rosulluloh dengan membawa beberapa
kurma, Nabi mengambil anak itu berkata Nabi : “Apakah ada kurma? Mereka berdua
menjawab : “ Ia”. Kemudian Nabi mengambilnya, mengunyahnya, diambil kunyahan
itu lalu diletakkan di mulut bayi itu, Nabi mentahniknya dan memberi nama
dengan Nama : “Abdullah”.
Annawawi
berkata : “Para ulama’ sepakat disunahkan mentahnik pada anak yang dilahirkan”.
8.
Memberi
Nama Bayi dan Kuniah (Gelar dengan memakai nama ayah dan ibu) yang baik
Bagian
dari hak anak terhadap Bapaknya adalah memperindah namanya, dalam hadis dari
Abu Daud : “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama
kalian dan nama bapak kalian oleh karena itu perindahlah nama-nama kalian.
Dari
Aisyah RA : “Sesungguhnya Nabi pernah merubah nama yang jelek”. (HR. Tirmizi).
Rasulluloh
pernah mengganti nama Abu Bakar bin Abdul Ka’bah dengan nama Abdullah,
sebelumnya nama Abdurrahman bin Auf adalah Abdul Ka’bah lalu Rosul SAW
menggantinya dengan nama Abdurrahman, dan nama ‘Ashiyah binti Tsabit bin Abil
Aklah diganti oleh Rosul SAW dengan nama Jamilah.
Rasulluloh
SAW bersabda : “Sesungguhnya nama-nama yang dicintai oleh Allah adalah :
Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim).
Rosulluloh
SAW bersabda : “Namailah kalian semua dengan nama-nama para Nabi dan sebaik
nama yang dicintai Allah “Abdullah dan Abdurrahman, sebenar-benarnya nama.
“Haris dan Hamam”, sejelek-jelek nama “Harb dan Morroh”.
Sa’ad
bin Musayab meriwayatkan dari bapaknya: “Sesungguhnya Nabi SAW berkata
kepadanya : “ Siapa namamu? Ia menjawab : “Hajan”, Nabi berkata : “ Akan tetapi
kamu sekarang Sahal, ia berkata aku tidak akan merubah nama yang dinamai oleh
Ayahku.” Ibnu Musayab menjelaskan : kami sebelumnya dirundung kesedihan. Hajan
artinya sedih dan Sahal artinya mudah.
Ibnu
Batol berkata : “Sesungguhnya perkara ini memberi nama yang baik dan merubahnya
dengan yang lebih baik”. Tidaklah diwajibkan akan tetapi disunahkan.
Begitu
juga sunah diganti untuk nama-nama yang ada unsur pemujian pada diri sendiri.
Dari Abi Hurairah RA : “Sesungguhnya Zainab sebelumnya bernama Barroh, menurut
satu pendapat “Nama Barroh memuji diri sendiri kemudian Rosulluloh menggantinya
dengan nama Zainab.” (HR. Bukhori Muslim).
Sebelumnya
Juwairiyah bernama Barrah lalu Rosul SAW merubahnya dengan nama Juwairiyah,
karena tidak disukai jika dikatakan, ia keluar dari Barrah (kebaikan).
Ibnu
Qoyum menjelaskan : “ Sesungguhnya nama-nama itu berpengaruh pada seseorang
yang dinamai, seseorang yang dinamai
mempunyai pengaruh dari nama-nama itu terhadap baik dan buruk, ringan dan
berat. Sebagaimana di nukil : “ Terkadang kedua matamu melihat kepada LaQob
(gelar sebuah nama) dan maknanya, jika engkau berfikir-fikir tentang LaQob itu.
Iyas
bin Muawwiyah dan yang lainnya melihat seseorang, lalu ia berkata : “
Seyogyanya nama seseorang itu begini dan begitu, maka orang itu hampir tidak
berbuat sesuatu yang menyalahi makna namanya.
Umar
bin Khotob bertanya kepada seseorang tentang namanya, ia berkata (Jamroh), Umar
bertanya lagi : “ Siapa nama ayahmu, ?” . Ia menjawab : “ (Syihab)”. Umar
bertanya lagi: “ Dari mana?”, ia menjawab : “Dari (Hirqoh)”. Umar bertanya
lagi: “Dimana rumahmu?”, Ia menjawab : “ (Bahrotunnar)”, Umar bertanya : “
Dimana tempat tinggalmu?”. Ia menjawab: “ Di (Zatillazo)”. Umar berkata :
“Pergi kamu !!! tempat tinggalmu telah terbakar, kamudian dia pergi, maka ia
mendapati sama apa yang dikatakan Umar (tempatnya terbakar).
Sebagaimana
Nabi SAW mencontohkan tentang nama Suhail sampai nama Suhulah, Rosulluloh
memerintahkan mereka pada perang Hudaibiyah, maka yang terjadi pada diri mereka
sama persis dengan arti nama-nama mereka (Suhail/Suhulah yang artinya
kesulitan-kesulitan).
Kuniyah
: adapun Kuniyah (gelar dengan nama Bapak dan Ibu) jika saha Kinayah itu bagus,
maka ia mempunyai pengaruh pada jiwa dan
kemulyaan terhadap orang yang memiliki kuniyah itu.
Syair
mengatakan : “ Aku memberikan Kuniyah kepadanya ketika aku memanggilnya agar
aku dapat memulyakannya, aku tidak memberikan LaQob (gelar) kepadanya dengan
sejelek-jeleknya laQob (gelar).
Kuniyah
ialah : sesuatu yang bersumber dari nama Ayah seseorang dan Ibu seseorang, dan
LaQob : ialah sebuah nama (gelar) yang dapat difahami dengan sifat tertentu,
kebanyakan LaQob untuk cacian, oleh karena itu Kinayah sebuah kemulyaan
sehingga anak kecil.
Nabi
SAW pernah memberikan Kuniyah kepada Abu Umair ketika kecil, Nabi SAW bercanda
dengannya lalu berkata : “ Ya Abu Umair, apa yang telah dilakukan oleh burung
kecil itu?”
Umar
bin Khotob berkata : “ Segerakanlah memberi Kuniyah pada anak-anak kalian
sebelum didahului oleh LaQob (gelar) yang buruk”.
Comments
Post a Comment
komentarmu akan aku terima, terimakasih.