Macam-macam AFIKSASI/IMBUHAN

Selamat datang di blog aku.



AFIKSASI/IMBUHAN

Afiks atau imbuhan adalah bunyi yang ditambahkan pada sebuah kata - entah di awal, di akhir, di tengah, atau gabungan dari antara tiga itu - untuk membentuk kata baru yang artinya berhubungan dengan kata yang pertama.
Kata berimbuhan adalah kata yang telah mengalami proses pengimbuhan atau (afiksasi). Imbuhan atau afiksasi adalah morfem terikat yang digunakan dalam bentuk dasar untuk membentuk kata. Hasil dari proses pengimbuhan itu disebut kata berimbuhan atau kata turunan.
Jenis-jenis Imbuhan
Imbuhan menurut posisinya terbagi ke dalam empat bentuk
  • Awalan atau prefiks, Contoh: meN-, ber-, di-, ter-, peN-, per-, se-, dan ke-.
  • Sisipan atau infiks, Contoh: -el, -er, -e-, dan –in-
  • Akhiran atau sufiks, Contoh: -kan, -an, -I, dan –nya
  • Konfiks atau simulfiks : berupa awalan dan akhiran yang pemakaiannya sekaligus. Contoh: ke-an, per-an, peN-an, ber-an, dan se-nya.
Di samping itu, dikenal pula imbuhan yang diserap dari bahasa asing, yaitu: -i ; -man ; -wan ; -wati ; -iyah ; - is ; -sasi ; -isme.
Imbuhan yang diserap dalam bahasa asing.Imbuhan tersebut di antaranya sebagai berikut:
  • Dari bahasa Arab:-ah, -i.Fungsinya sebagai penbentuk atau penanda kata sifat. Contohnya; manusiawi, alamiah, alami
  • Dari bahasa Sansekerta: -man, -wan, -wati,.Fungsinya sebagai pembentuk kata benda. Contohnya, budiman, wartawan, pragawati.
  • Dari bahasa Inggris: -is, -if, -al. Fungsinya sebagai pembentuk kata sifat. Contohnya, egois, deskriptif, formal
Fungsi Imbuhan
Pemakaian imbuhan dapat mengubah kelas kata. Kata benda misalnya, setelah diberi imbuhan bisa menjadi kata kerja, kata sifat, atau kata lainnya.
Contoh:
  • batu (benda) -> membatu (sifat)
  • indah (sifat) -> seindah-indahnya (keterangan)
  • mandi (kerja) -> pemandian (benda)
Fungsi imbuhan adalah:
  • Membentuk kata benda, yakni peN-, pe-, per-, ke-, -isme, -wan, -sasi, -tas, peN-an, pe-an, per-an, dan ke-an. Contoh: pelaut, penyapu, wartawan, dll.
  • Membentuk kata kerja, yakni me-, ber-, per-, ter-, di, -kan, ter-kan,dan di-i. Contohnya: melaut berlayar, terlihat diminum, bawakan, lempari, menaiki.
  • Membentuk kata sifat,yakni –I, -wi,-iah, dan –is. Contohnya: manusiawi, duniawi, ilmiah, agamis
  • Membentuk kata bilangan yakni se- dan ke-. Contohnya: sepuluh dan kedua.
  • Membentuk kata keterangan, se-nya ; -nya ; -an, Contoh: sepertinya, habis-habisan, seindah-indahnya, dll.
Awalan peN-
Imbuhan peN- merupakan salah satu awalan yang pemakaiannya sangat produktif. Makna yang dikandung awalan peN- bermacam- macam antara lain:
  • Menyatakan yang melakukan perbuatan. Contoh: penulis, & pembaca.
  • Menyatakan pekerjaan. Contoh: pengusaha, pedagang.
  • Menyatakan alat. Contoh: pengerat, penggaris
  • Menyatakan memiliki sifat. Contoh: pemaklum, penggembira.
  • Menyatakan penyebab. Contoh: pemanis, pemutih.
Awalan ber-
Awalan ber- mempunyai kaidah sebagai berikut:
  • Apabila diikuti kata dasar yang berawalan dengan huruf /r/ dan beberapa kata dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /er/, maka ber- menjadi be-. Contoh: beramal, bekerja
  • Apabila diikuti kata dasar ajar, maka ber- menjadi bel-. Contoh: bel + ajar = belajar
  • Apabila diikuti kata dasar selain yang disebutkan di atas, maka ber- tetap tanpa perubahan. Contoh: ber + balik = berbalik
Makna yang terkandung oleh awalan ber-, antara lain:
  • Mempunyai, contoh: beratap, beranak, berhasil.
  • Menggunakan contoh: bersepeda, bersepatu
  • Mengeluarkan contoh: bertelur, berbau, berkata.
  • Menyatakan sikap mental, contoh: berbahagia, berhati-hati,
  • Dalam jumlah, contoh berdua, bertiga.

Dalam beberapa tulisan atau berbagai percakapan sering dijumpai pelesapan-pelesapan imbuhan ber-. Perhatikan kalimat berikut:
  • Usahanya belum hasil.
  • Pendapat kita memang beda
  • Murid-murid sudah kumpul di muka kelas.
Bentuk-bentuk tanpa ber- seperti pada contoh di atas merupakan pemakaian kalimat yang tidak baku. Hal tersebut antara lain merupkan unsur pengaruh dari bahasa daerah. Kalimat-kalimat tersebut seharusnya diucapkan:
  • Usahanya belum berhasil
  • Pendapat kita memang berbeda
  • Murid-murid sudah berkumpul di muka kelas
Awalan meN-
Apabila awalan afiks me- dihubungkan dengan kata dasar (bahasa Inggris: ''word stem,root word'') dengan fonem awal tertentu, terjadi variasi bentuk, yakni me, mem-, men, meng-, dan meny-.
Kaidah imbuhan meN-
Imbuhan meN- apabila ditambahkan pada kata dasar berfonem awal vokal, /J/ /k/, /h/, /g/ , /kh/ berubah menjadi meng- Contoh:
  • meN- + ambil = mengambil
  • meN- + elak = mengelak
  • meN- + kalah = mengalah
  • meN- + harap = mengharap
  • meN- + khawatirkan = mengkhawatirkan
Jika imbuhan meN- ditambahkan pada kata dasar dengan fonem awal /l/, /m/, /n/, /ny/, /ng/, /r/, /y/, atau /w/, bentuknya berubah menjadi me-
  • meN- + latih = melatih
  • meN- + makan = memakan
  • meN- + namai = menamai
  • meN- + nyatakan = menyatakan
  • meN- + nganga = menganga
  • meN- + rusak = merusak
  • meN- + yakinkan = meyakinkan
  • meN- + wabah = mewabah
Jika meN- ditambahkan pada kata dasar yang berfonem awal /d/, atau /t/ bentuknya berubah menjadi men-
  • meN- + datang = mendatang
  • meN- + tanam = menanam
Jika meN- ditambahkan pada kata dasar berfonem awal /b/, /p/, atau /f/, bentuknya berubah menjadi mem-
  • meN- + babat = membabat
  • meN- + pukul = memukul
  • meN- + fokuskan = memfokuskan
Jika meN- ditambahkan pada kata dasar berfonem awal /c/, /j/, /s/, dan /sy/, bentuknya berubah menjadi meny- .
  • meN- + satu = menyatu
  • meN- + cari = mencari
  • meN- + jadi = menjadi
  • meN- + syukuri = mensyukuri
Jika meN- ditambahkan pada kata dasar yang bersuku satu, bentuknya berubah menjadi menge-.
  • meN- + bom = mengebom
  • meN- + cek = mengecek
Jika dirasakan masih baru, proses peluluhan kata-kata yang berasal dari bahasa asing tidak berlaku. Namun, jika kata dasar itu tidak asing lagi, proses penggabungan mengikuti kaidah yang umum.
  • meN- + produksi = memproduksi
Jika kata kerja berkata dasar tunggal direduplikasi, kata dasarnya diulangi dengan mempertahankan peluluhan konsonan pertamanya.
  • tulis = menulis-nulis; tulis-menulis
  • karang = mengarang-ngarang; karang-mengarang
  • cek = mengecek-ngecek
  • ulangi = mengulang-ulangi
Makna awalan meN- adalah sebagai berikut:
  • Melakukan perbuatan, tindakan; Contoh: mengambil, menjual
  • Melakukan perbuatan dengan alat: Contoh: mengambil, menyabit
  • Menjadi atau dalam keadaan; contoh: menurun, meluap
  • Membuat kesan; contoh: mengalah, membisu
  • Menuju ke; contoh;mendarat, menepi
  • Mencari;contoh: mendamar
Fonem /p/ menjadi luluh ke dalam fonem /m/. Namun, peluluhan tidak terjadi jika fonem /p/ adalah permulaan dari prefiks per- atau kata dasarnya mulai dengan per- atau pe- tertentu.
  • meN- + pertinggi = mempertinggi
  • meN- + pertaruhkan = mempertaruhkan
Penulisan yang benar untuk makna ‘membuat jadi lebih tinggi’ adalah mempertinggi atau meninggikan bukan mempertinggikan.
Awalan di-
Awalan di- bermakna suatu perbuatan yang pasif, sebagai kebalikan dari awalan (me-(N)) yang bermakna aktif. Contoh: di- + baca = dibaca ; ambil = diambil ; jual = dijual Jika di- diikuti oleh kata yang menunjukkan tempat, maka penulisannya dipisah.
Awalan ter-
Imbuhan ter- menyatakan makna sebagai berikut:
  • Sudah di- atau dapat di-; contoh: tertutup, terbuka.
  • Ketidaksengajaan; contoh: terbawa, terambil.
  • Tiba-tiba; contoh: teringat, terjatuh
  • Paling/superlatif; contoh: terindah, terbagus
Awalan se-
Awalan se- mengalami variasi-variasi makna, yakni sebagai berikut:
  • Satu; contoh: seeekor, sebutir
  • Seluruh, seisi; contoh: serumah, sekampung.
  • Sama-sama; contoh: sepermainan, seperjuangan.
  • Sama dengan, seperti; contoh: setinggi, selebar, seenaknya, semaumu.
  • Menyatakan waktu; contoh: sesudah, selagi
Awalan per-
Imbuhan per- berubah menjadi pe-, apabila ditambahkan pada kata dasar yang berfonem awal /r/ atau kata dasar yang suku pertamanya berakhir /er/
  • per- + ringan = peringan
  • per- + kerja = pekerja
Imbuhan per- berubah menjadi pel- apabila ditambahkan pada bentuk dasar ajar
  • per- + ajar = pelajar
Akhiran –an
Pada umumnya akhiran –an membentuk kata benda misalnya, pukulan, manisan, satuan, ratusan. Makna akhiran –an adalah sebagi berikut;
  • Menyatakan tempat: contoh: pangkalan, kubangan
  • Menyatakan alat; contoh: timbangan, ayunan
  • Menyatakan hal atau cara: contoh: didikan, pimpinan.
  • Menyatakan akibat, hasil perbuatan: contoh: hukuman, balasan.
  • Menyatakan sesuatu yang di; contoh: catatan,suruhan.
  • Menyatakan seluruh, kumpulan; contoh: lautan, sayuran.
Akhiran –kan dan -i
Fungsi
  • Membentuk kata kerja. Semua kata yang berakhiran –kan dan –i dengan atau tanpa awalan merupakan kata kerja. Tanpa awalan, akhiran –kan dan –i itu merupakan kata kerja bentuk imperatif. Contoh:
o    panas (kata sifat)
o    panaskan (kata kerja)
o    panasi (kata kerja)
  • Menjadikan kata kerja taktransitif menjadi kata kerja transitif. Contoh:
o    Didi duduk di kursi (traktransitif)
o    Didi menduduki kursi (transitif)
o    Didi mendudukkan Adik di kursi (transitif)
  • Mengintensifkan arti. Contoh:
o    Polisi menangkap penjahat
o    Polisi menangkapi penjahat (pekerjaan itu dilakukan berulng-ulang karena objeknya lebih dari satu)
Perbedaan-perbedaan
  • Objek yang mengikkuti kata kerja berakhiran –kan berpindah tempatnya dan objek itu merupakan alat. Objek yang mengikuti kata kerja berakhiran –i tetap tempatnya, tak berpindah, dan objek itu merupakan tempat berlakunya pekerjaan itu: Contoh:
o    Petani itu menanamkan benih di sawahnya.
o    Petani itu menanami sawahnya.
  • Kata kerja berakhiran –kan diikuti oleh objek penderita, sedangkan kata kerja berakhiran –i diikuti objek penyerta. Contoh:
o    Dia menawarkan pekerjaan kepada saya.
o    Dia menawari saya pekerjaan.
  • Adakalanya perbedaan kedua akhiran itu kurang jelas sehingga pemakaiannya seolah-olah sama saja dan dapat saling menggantikan. Contoh:
o    Dia menamai anaknya Alam (menamai = memberi nama)
o    Dia menamakan anaknya Alam (menamakan = menyebabkan bernama)

1.      PREFIKS
Awalan atau prefiks adalah sebuah afiks yang dibubuhkan pada awal sebuah kata dasar. Kata "awalan" sendiri diserap dari bahasa Arab yaitu kata "awwal" yang terdiri dari kata dasar "awwal" yang berarti "awal" dan akhiran "-an".
Bahasa Indonesia terutama banyak menggunakan awalan untuk menurunkan sebuah kata. Dalam studi bahasa Semitik, sebuah awalan disebut dengan "preformatif", karena prefiks dapat mengubah bentuk kata yang dibubuhinya.
Contoh awalan dalam bahasa Indonesia:
  • berlari: ber- adalah awalan yang memiliki arti "melakukan"
  • seekor: se- adalah awalan yang memiliki arti "satu"
  • mahakuasa: maha- adalah awalan serapan yang memiliki arti "paling"
Jenis-jenis Awalan
  • Awalan di-
Menurut Anang Maulana Ibrahim, berfungsi membentuk kata kerja, dan menyatakan makna pasif. Contoh: diambil, diketik, ditulis, dijemput, dikelola
  • Awalan me-
Berfungsi membentuk kata kerja atau verba. Prefiks ini mengandung arti struktural. Prefiks ini mengandung beberapa arti:
  1. 'melakukan tindakan seperti tersebut dalam kata dasar'. Contoh: menari, melompat, mengarsip, menanam, menulis, mencatat
  2. 'membuat jadi atau menjadi'. Contoh: menggulai, menyatai, menjelas, meninggi, menurun, menghijau, menua
  3. 'mengerjakan dengan alat'. Contoh: mengetik, membajak, mengail, mengunci, mengetam
  4. 'berbuat seperti atau dalam keadaan sebagai'. Contoh: membujang, menjanda, membabi buta
  5. 'mencari atau mengumpulkan'. Contoh: mendamar, merotan
  • Awalan ber-
Berfungsi membentuk kata kerja (biasanya dari kata benda, kata sifat, dan kata kerja sendiri) Prefiks ini mengandung arti :
  1. 'mempunyai'. Contoh: bernama, beristri, beruang, berjanggut
  2. 'memakai'. Contoh: berbaju biru, berdasi, berbusana.
  3. 'melakukan tindakan untuk diri sendiri (refleksif)'. Contoh: berhias, bercukur, bersolek
  4. 'berada dalam keadaan'. Contoh: bersenang-senang, bermalas-malas, berpesta-ria, berleha-leha
  5. 'saling', atau 'timbal-balik' (resiprok). Contoh: bergelut, bertinju, bersalaman, berbalasan
  • Awalan pe-
Berfungsi membentuk kata benda dan kata kerja, kata sifat, dan kata benda sendiri. Prefiks ini mendukung makna gramatikal:
  1. 'pelaku tindakan seperti tersebut dalam kata dasar'. Contoh: penguji, pemisah, pemirsa, penerjemah, penggubah, pengubah, penatar, penyuruh, penambang.
  2. 'alat untuk me...'. Contoh: perekat, pengukur, penghadang, penggaris
  3. 'orang yang gemar'. Contoh: penjudi, pemabuk, peminum, pencuri, pecandu, pemadat.
  4. 'orang yang di ...'. Contoh: petatar, pesuruh
  5. 'alat untuk ...'. Contoh: perasa, penglihat, penggali
  • Awalan per-
Berfungsi membentuk kata kerja imperatif. Mengandung arti:
  1. 'membuat jadi' (kausatif). Contoh: perbudak, perhamba, pertuan
  2. 'membuat lebih'. Contoh: pertajam, perkecil, perbesar, perkuat
  3. 'menbagi jadi'. Contoh: pertiga, persembilan
  • Awalan ter-
Berfungsi membentuk kata kerja (pasif) atau kata sifat. Arti yang dimiliki antara lain ialah :
  1. 'dalam keadaan di'. Contoh: terkunci, terikat, tertutup, terpendam, tertumpuk, terlambat
  2. 'dikenai tindakan secara tak sengaja'. Contoh: tertinju, terbawa, terpukul
  3. 'dapat di-'. Contoh: terangkat, termakan, tertampung
  4. 'paling (superlatif)'. Contoh: terbaik, terjauh, terkuat, termahal, terburuk.

  • Awalan ke-
Berfungsi membentuk kata bilangan tingkat dan kata bilangan kumpulan, kata benda, dan kata kerja. Sebagai pembentuk kata benda, prefiks ke- bermakna gramatikal 'yang di ... i', atau 'yang di ... kan', seperti pada kata kekasih dan ketua.

2.      INFIKS
Sisipan atau infiks adalah afiks yang dibubuhkan pada tengah-tengah kata. Beberapa bahasa yang memiliki sisipan misalnya bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan bahasa Tagalog, dan beberapa bahasa lainnya.
Dalam bahasa Jawa memiliki beberapa sisipan, misalkan sisipan –in– yang menyatakan bentuk pasif. Tetapi dalam bahasa Jawa baru hal ini tidak produktif lagi dan dianggap arkhais dan hanya dipergunakan dalam bahasa sastra atau pertunjukan wayang.
Contoh:
  • karya -> kinarya ("dikerjakan")
  • carita -> cinarita ("diceritakan")
Sisipan ( infiks/ infix) dapat mempunyai makna, antara lain:
  1. Menyatakan banyak dan bermacam-macam. Contohnya: tali→ temali, artinya terdapat bermacam-macam tali. gigi→gerigi, artinya terdapat bermacam gigi. sabut→serabut, artinya terdapat bermacam-macam sabut. kelut→kemelut, gunung→gemunung, artinya terdapat bermacam-macam gunung.
  2. Menyatakan intensitas frekuentif, artinya menyatakan banyaknya waktu. Contoh: getar→gemetar, artinya menunjukan banyaknya waktu getar atau gerak suatu benda. guruh→gemuruh, artinya menunjukan banyaknya waktu guruh. gertak→gemertak, artinya menujukan banyaknya waktu bunyi gertak. cicit→cericit, artinya menujukan banyaknya waktu bunyi cicit.
  3. Menyatakan sesuatu yang mempunyai sifat seperti yang di sebut pada kata dasarnya. Contoh: kata kerja→kinerja, artinya sesuatu yang mempunyai sifat sama dengan kerja atau sesuatu sifat kegigihan. kuning→kemuning, artinya sesuatu yang mempunyai sifat sama dengan warna kuning. gilang→gemilang, artinya sesuatu yang mempunyai sifat sama dengan cerah. turun→temurun, artinya sesuatu yang mempunyai sifat terus-menerus. tunjuk→telunjuk, artinya sesuatu yang mempunyai sifat seperti tunjuk.

3.      SUFIKS
Akhiran atau sufiks adalah afiks yang dibubuhkan pada akhir sebuah kata. Dalam bahasa Indonesia, "-nya", sebagai contoh dari sebuah akhiran.
Contoh: -an + pikir→pikiran, -in + hadir→hadirin, -wan + karya→karyawan, -wati+karya→karyawati, -wi+ manusia→manusiawi. Semua akhiran ini disebut sebagai akhiran untuk kata benda.
Sufiks (akhiran) nya memiliki fungsi sebagai berikut :
• Penunjuk kepemilikan : rumahnya, kakinya
• Pembentuk kata benda : duduknya, bicaranya, salahnya
• Sebagai obyek penderita enklitik : Saya mencubitnya
• Sebagai obyek pelaku : ditendangnya tong sampah itu berkali-kali
• Pembentuk kata keterangan : akhirnya datang juga, keesokan harinya
• Pembentuk kata sandang : bagaimanapun pentingnya, mana orangnya

4.      KONFIKS
Konfiks adalah awalan dan akhiran yang melekat pada kata secara bersamaan , tidak secara bertahap / tidak satu demi satu
Bentuk konfiks per-an dapat mengalami variasi bentuk berdasarkan:
  1. Lingkungannya.
Contoh: persatuan, perjanjian, pelajaran, pekerjaan, perambatan, dan lain-lain.
  1. Dasar kata dari mana kata itu dibentuk.
1.      Jika pembentukannya mempergunakan kata benda sebagai kata dasar maka akan mengambil bentuk pe-an.
Contoh: pekuburan, pedesaan.
2.      Jika pembentukannya berasal dari suatu kata kerja yang mempergunakan awalan ber-, maka kata benda itu akan mengambil bentuk per-an atau pe-an, sesuai dengan awalan ber- dengan alomorfnya.
Contoh: perbuatan, pelayaran.
3.      Jika pembentukannya berasal dari satu kata kerja yang mempergunakan awalan me-, maka ia akan mengambil bentuk pe + N + an.
Contoh: pembaharuan, penyatuan, penguburan, pemburuan, dan lain-lain.
Jenis Konfiks
1. Konfiks per-an / peng-an
Fungsi : membentuk kata benda Makna konfiks per-an / peng-an:
  • Menyatakan tempat. Contoh : perhentian , pelabuhan , pengadilan , pemakaman
  • Menyatakan hasil perbuatan. Contoh : pemalsuan , permainan , pengaduan , penahanan, penghitungan
  • Menyatakan peristiwa / hal perbuatan / proses. Contoh : pengajaran , pencarian , pengaturan , pendidikan
2. Konfiks ke-an
Fungsi : secara umum , konfiks ke-an berfungsi membentuk kata benda , tetapi dalam jumlah terbatas , konfiks ke-an juga berfungsi membentuk kata kerja (pasif) dan kata sifat/keadaan
Makna Konfiks ke-an :
  • Menyatakn tempat /daerah/wilayah. Contoh : kerajaan , kecamatan , kedutaan , kelurahan , kementrian , kesultanan
  • Menyatakan hal yang disebut dalam kata dasar. Contoh : kewajiban , kebersihan , kenyataan , ketuhanan , kesatuan , keindahan
  • Terkena/menderita sesuatu hal. Contoh : kehujanan , kepanasan , kedinginan , kekurangan , kesakitan, kelaparan , kehausan
  • Perbuatan yang dilakukan secara tidak sengaja. Contoh : kelupaan , ketiduran , kemasukan , keguguran , kejatuhan
  • Menyatakan terlalu. Contoh : kebesaran, kekecilan, kegemukan, kekurusan, kemahalan, kematangan
  • Mengandung sedikit sifat yang disebut dalam kata dasar, agak, atau menyerupai. Contoh : kekanak-kanakan, kemerah-merahan, kekuning-kuningan,kebarat-baratan, kebelanda-belandaan, kesunda-sundaan ,
3. Konfiks ber-an
Fungsi : membentuk kata kerja Makna konfiks ber-an :
  • Menyatakan saling atau perbuatan yang dilakukan secara timbal balik (resiprok). Contoh : berkirim-kiriman, berkenalan, bersalam-salaman, berpelukan, bertangis-tangisan, berkejar-kejaran, berebutan
  • Menyatakan perbuatan yang terjadi berulang-ulang (repetitif), atau perbuatan tetap berlangsung, atau pelakunya banyak. Contoh: bertaburan, berkilauan, berhamburan, berkeliaran, bercucuran, berdatangan
Konfiks ke-an
Konfiks ke-an berfungsi sebagai pembentuk kata benda abstrak. Misalnya, kepandaian, kecepatan, keindahan, kesehatan. Konfiks ke-an­ memiliki makna sebagai berikut:
  • Menyatakan keadaaan: contoh; kedinginan, kesakitan
  • Menyatakan intensitas (terlalu, terlampau); contoh: kebesaran, kemahalan.
  • Menyatakan agak, menyerupai: contoh: kehijau-hijauan, kebarat-baratan.
Konfiks pe(N)-an
Konfiks pe(N) –an mempunyai variasi bentuk pe-an, pem-an, peng-an, peny-an. Makna konfiks pe(N)-an adalah sebagai berikut:
  • Menyatakan hal yang berhubungan dengan kata dasar. Contoh: penanaman, pendidikan.
  • Menyatakan proses/perbuatan. Contoh pemberontakan, pendaftaran.
  • Menyatakan hasil. Contoh: penyamaran, pengakuan.
  • Menyatakan alat. Contoh: penciuman.
  • Menyatakan tempat. Contoh: penampungan, pemandian.
Konfiks per-an
Makna konfiks per-an adalah sebagai berikut:
  • Menyatakan tempat. Contoh: perhentian, percetakan
  • Menyatakan daerah. Contoh: perkebunan.
  • Menyatakan hasil perbuatan. Contoh: pernyataan, pertahanan
  • Menyatakan perihal. Contoh: peristilahan, perhukuman
  • Menyatakan banyak, bermacam-bermacam. Contoh; peralatan, persyaratan.
Konfiks se-nya
Konfiks se-nya umumnya disertakan pada kata ulang. Fungsinya membentuk kata keterangan. Contoh: Se-nya +putih = seputih-putihnya ; pintar = sepintar-pintarnya
Konfiks se-nya menyatakan superlative atau tingkat paling tinggi yang dapat dicapai. Contoh: Seputih-putihnya = seputih mungkin ; sepintar-pintarnya = sepintar mungkin
Klitika –ku, -mu, nya
Fungsi
  • Sebagai penunjuk kepunyaan. Contoh:
    • rumahku, rumahmu, rumahnya
  • Sebagai alat pembentuk kata benda. Contoh:
    • salah (kata sifat) = salahmu (kata benda);
    • duduk (kata benda) = duduknya(kata benda)
  • Sebagai objek penderita Contoh:
    • Sudah beberapa kali ia membujukku.
    • Ia memandangnya tajam-tajam.
  • Sebagai objek penyerta. Contoh:
    • Surat itu telah kukirimkan kepadanya.
    • Barang-barang ini sengaja dia bel untukmu.


Khusus untuk –nya, selain sebagai klitika atau kata ganti orang, juga berfungsi sebagai imbuhan.
Fungsi imbuhan –nya adalah sebagai berikut;
  • Sebagai pembentuk kata keterangan. Contoh:
o    Agaknya akan turun hujan hari ini.
o    Tidak selamanya orang menderita.
  • Sebagai penunjuk. Contoh:
o    Penyakit seperti ini sukar dicari obatnya.
o    Rumah kami besar, kamar-kamarnya luas.
  • Bersama-sama dengan awalan se- menyatakan superlative. Contoh:
o    Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali gagal juga.
o    Sepeda adik yang baru dibeli bercat merah.
Pemakaian –nya pada kata rumah & sepeda adalah tidak perlu karena rujukannya sudah dinyatakan langsung. Perhatikan kalimat di bawah ini:
a) Rumah paman bertingkat dua. ; b) Rumahnya bertingkat dua.
a) Sepeda adik yang baru dibeli bercat merah. ; b) Sepedanya bercat merah.
5.      SIMULFIKS
Simulfiks adalah afiks yang tidak berbentuk suku kata dan yang ditambahkan atau dileburkan pada dasar. Simulfiks mengganti satu atau lebih fonem untuk mengubah makna morfem. Simulfiks dalam bahasa Indonesia adalah ng-, misalnya pada ngopi (dari kopi), dan ny-, misalnya pada nyari (dari cari), yang berfungsi sebagai pembentuk kata kerja dalam ragam cakapan.[1]
Afiks gabungan (simulfiks ) yang termasuk dalam bahasa indonesia
a. afiks gabungan ( simulfiks ) pe – an
afiks gabungan ( simulfiks ) pe – an, mengalami perubahan atau bervariasi seperti prefiks me -
contoh:                        
pe + kumpul + an=perkumpulan
pe + rawat + an=perawatan
pe + masuk + an=pemasukan
b. afiks gabungan (simulfiks) ber –an atau ber –kan
contoh:   ber + rangkai + an = berangkaian
ber + rebut + an = berebutan
ber + harap +an        = berharapan

masih banyak lagi yang termasuk afiks gabungan dalam bahasa indonesia
contoh:
me + jahit + kan         = menjahitkan
di + jahit + kan = dijahitkan
per + tanya + kan        = pertanyakan
Memper-kan, mempunyai sifat:

Ø  Fungsi imbuhan gabung Memper-kan adalah membentuk kata kerja transitif.
Ø  Bila dipasangkan dengan kata kerja tertentu akan membentuk makna “menjadikan sebagai bahan” (memperdebatkan).
Ø  Bila dipasangkan dengan kata sifat dan kata kerja yang menyatakan keadaan akan membentuk makna “menjadikan supaya” (mempersiapkan).
Ø  Tidak memiliki variasi bentuk. Semua konsonan dan vokal yang mendapat imbuhan gabung Memper-kan akan mengalami morfologi.

Memper-i, mempunyai sifat:

Ø  Fungsi imbuhan gabung Memper-I membentuk kata kerja transitif.
Ø  Bila dipasangkan dengan kata sifat akan membentuk makna “membuat supaya obyeknya menjadi atau menjadi lebih” (memperbaiki).
Ø  Bila dipasangkan dengan kata kerja tertentu akan membentuk makna “melakukan yang disebut pada kata dasarnya” (memperturuti).
Ø  Tidak memiliki variasi bentuk. Semua konsonan dan vokal yang mendapat imbuhan gabung Memper-i akan mengalami morfologi.

Diper-kan, mempunyai sifat:

Ø  Berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif sebagai kebalikan dari kata kerja aktif berimbuhan gabung Memper-kan.
Ø  Digunakan sebagai imbuhan kata kerja dalam kalimat yang pelakunya terletak sesudah kata kerjanya dengan makna “dibuat jadi…”
Ø  Tidak memiliki variasi bentuk. Semua konsonan dan vokal yang mendapat imbuhan gabung Diper-kan akan mengalami morfologi.

Diper-i, mempunyai sifat:
Ø  Berfungsi untuk membentuk kata kerja pasif sebagai kebalikan dari kata kerja aktif berimbuhan gabung Memper-i.
Ø  Digunakan sebagai imbuhan kata kerja dalam kalimat yang pelakunya terletak sesudah kata kerjanya.
Ø  Tidak memiliki variasi bentuk. Semua konsonan dan vokal yang mendapat imbuhan gabung Diper-i akan mengalami morfolog
 

Comments

Popular posts from this blog

Puisi Bahasa Lampung

Pengertian Puisi, Pattun dan Pepaccur Lampung

SISTEM KEPERCAYAAN dan KEDATANGAN DEUTRO DAN PROTO MELAYU KE INDONESIA