20 Artikel

Selamat datang di blog aku.


Artikel 1.
5 Perubahan Sosial Dibidang Ekonomi
Perubahan sosial selalu terjadi dan mencakup semua bidang. Salah satunya adalah bidang ekonomi. Perubahan sosial dibidang ekonomi mencakup gaya hidup dan aktivitas ekonomi pada masyarakat. Perubahan ini tentu saja ada dampak baik dan buruknya. Nah, apa sajakah perubahan sosial dibidang ekonomi? Langsung saja kita simak yang pertama:
1.      Gaya Hidup Konsumtif
Gaya hidup konsumtif adalah fenomena yang terjadi di jaman sekarang. Penyebab utamanya adalah rasa gengsi di masyarakat dan keinginan akan mengikuti sebuah trend. Salah satu contohnya yang fenomenal adalah fenomena mengganti smartphone baru dan makan-makanan yang mewah. Itu disebabkan karena mereka merasa gengsi dan tergiur dengan diskon yang tidak biasa terjadi. Akibatnya, kemiskinan semakin merajalela akibat sifat boros ini.
2.      Menyukai Produk Luar Negeri
Sejak bangsa kita dijajah, kita mulai ‘dihipnotis’ oleh mereka supaya kita menganggap bahwa produknya lebih baik daripada produk dalam negeri. Hal ini membuat kita selalu memilih produk luar negeri ketimbang produk dalam negeri. Apalagi dengan masuknya budaya asing dengan mudah ke Indonesia, kecintaan masyarakat akan produk luar negeri semakin meningkat.
3.      Korupsi
Sifat manusia yang tidak pernah puas dan cenderung lebih memikirkan dirinya sendiri menghasilkan budaya korupsi. Budaya ini tentu saja sangat merugikan negara. Seharusnya uang tersebut digunakan untuk membangun sarana yang baik untuk rakyat, malah digunakan untuk memenuhi rasa kerakusan para pejabat.
4.      Berutang
Kebiasaan berutang dan mencicil sudah mulai tumbuh sejak ada gaya hidup boros. Mereka menjadi suka berutang untuk membeli kebutuhan pokok. Sementara untuk memenuhi keinginannya (bukan kebutuhan) yang mahal, mereka mencicilnya.
5.      Kesadaran Menabung Meningkat
Kesadaran untuk menabung semakin meningkat. Hal ini mungkin dikarenakan bunga deposito yang semakin tinggi dan berbagai penawaran menarik dari bank. Selain itu, kesadaran untuk berasuransi juga meningkat.

Semoga bermanfaat, Tetap Semangat! | Catatan Harian

Artikel 2.

10 Contoh Perubahan Sosial Budaya

Perubahan sosial budaya adalah perubahan pada kebudayaan atau kebiasaan pada masyarakat. Perubahan sosial budaya dipengaruhi oleh faktor dari luar masyarakat (dari masyarakat lain). Perubahan sosial budaya bisa merubah struktur, fungsi, nilai, norma, pranata, dan semua aspek lainnya. Perubahan ini bisa terjadi pada salah satu anggota masyarakat atau seluruh lapisan masyarakat. Berikut adalah contoh perubahan sosial budaya yang terjadi di sekitar kita.
4. Ekonomi
Perubahan ekonomi tampak jelas pada sifat masyarakat. Pada umumnya, masyarakat lebih suka dengan produk impor dibandingkan produk di dalam negeri karena kualitasnya dianggap lebih bagus. Selain itu, dengan adanya Singapura sebagai negara maju, maka masyarakat yang kaya lebih memilih berlibur ke Singapura ketimbang ke Bali. Hal ini dapat mengurangi devisa negara..
Artikel 3

Aktifitas dan Perubahan Manusia dalam Bidang Sosial Ekonomi, Pendidikan dan Budaya

Oleh: St. Umroh | 17/06/2015 | Mapel: IPS, Pendidikan, Sosial dan Budaya
Contoh Aktivitas dan Perubahan Kehidupan Manusia
Berikut ini contoh aktivitas dan perubahan kehidupan manusia dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya.
2. Ekonomi
– Perubahan positif
Aktivitas dalam mata pencaharian penduduk dan peningkatan kesejahteraan kehidupan masyarakatnya karena pembangunan sarana dan prasarana dan infrastruktur.

– Perubahan negatif
Aktivitas keseharian dan pola hidup keseharian masyarakat menjadi konsumtif dengan pesatnya perberkembangan dunia periklanan melalui media massa dan televisi.
Aktivitas berbelanja dari belanja di pasar tradisional beralih ke pasar-pasar modern, pasar online karena pesatnya pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan dan teknologi modern.

Artikel 4.

Perubahan-Perubahan Politik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya Akibat Perluasan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia
Hikmat May 10, 2013 0 Comment
Penghasilan yang berupa lungguh, upeti atau hasil bumi; makin berkurang dan bahkan hilang, sebab kedudukannya telah berganti sebagai alat pemerintah Belanda. Dalam bidang ekonomi, penghasilan penguasa pribumi makin berkurang. Sudah pasti keadaan ini akan menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan para penguasa pribumi. Di pihak rakyat, khususnya para petani dibebani kewajiban untuk mengolah sebagian tanahnya untuk ditanami dengan tanamantanaman eskpor dan masih harus menyumbangkan tenaganya secara paksa kepada pemerintah kolonial. Hal inilah yang mengakibatkan runtuhnya perekonomian rakyat.
Dalam bidang sosial, perluasan kolonialisme dan imperialisme berakibat makin melemahnya kedudukan dan perekonomian penguasa pribumi. Penguasa pribumi lebih banyak ditugaskan untuk menggali kekayaan bumi Indonesia, seperti memungut pajak, mengurusi tanaman milik pemerintah dan mengerahkan tenaga kerja untuk kepentingan pemerintah Belanda.Turunnya kedudukan penguasa pribumi mengakibatkan turunnya derajat dan kehormatan sebagai penguasa pribumi.
Di bidang kebudayaan, makin meluasnya pengaruh kehidupan Barat dalam lingkungan kehidupan tradisional. Kehidupan Barat seperti cara bergaul, gaya hidup, cara berpakaian dan pendidikan mulai dikenal di kalangan atas atau istana. Sementara itu beberapa tradisi di lingkungan istana mulai luntur. Tradisi keagamaan rakyat pun mulai terancam pula. Di kalangan penguasa timbul kekhawatiran bahwa pengaruh kehidupan Barat mulai merusak nilai-nilai kehidupan tradisional. Tantangan yang kuat terutama dari kalangan pim-pinan agama, yang memandang kehidupan Barat bertentangan dengan norma-norma ajaran agama Islam. Orientasi keagamaan seperi ini, terdapat juga di kalangan para bangsawan dan pejabat-pejabat istana yang patuh kepada agama. Dalam suasana kritis, pandangan keagamaan ini dijadikan dasar ajakan untuk melakukan perlawanan.

Artikel 5

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Perubahan Sosial Dan Budaya

Berdasarkan hal tersebut, akhirnya kita dapat menentukan sikap sebagai berikut : 
a. Aspek-aspek positif yang diterima
4) Di Bidang Ekonomi
Kompetisi atau persaingan bebas adalah kunci, seperti AFTA (Asean Free Trade Agreement) atau perjanjian kawasan perdagangan bebas ASEAN yang berlaku di tahun 2003 dan APEC (Asian Pacific Economy Cooperation) atau kerja sama ekonomi Asia Pasifik yang berlaku di tahun 2020. Lalu timbul pertanyaan : sudah siapkah kita menghadapi era liberalisme perdagangan tersebut ? jika sudah, berarti kita akan tetap survive (hidup) akan dicukupi dari produksi luar negeri. Akibatnya bangsa kita akan tergantung sepenuhnya pada bangsa kita.
b. Aspek-aspek Negatif yang wajib ditolak
Kita telah masuk pada era globalisasi, dimana dunia seolah-olah tidak memiliki lagi batas-batas wilayah, waktu dan budaya. Apa yang terjadi di sana, terjadi juga di sini dalam waktu yang sama dan tidak ada sensor. Kita dihadapkan pada suatu pilihan, menerima atau menolak. Dalam menentukan pilihan wajib mempunyai filter (penyaring), yaitu agama (iman), Pancasila, norma-norma budaya, dan kepribadian bangsa. Apabila tidak, maka nilai-nilai kemaksiatan akan masuk dan merusak bangsa kita.
4) Di bidang ekonomi 
Salah satu ciri era globalisasi adalah adanya kompetisi (persaingan) secara sehat, artinya berdasarkan peraturan yang berlaku. Kompetisi dapat berlaku dalam kualitas, harga (murah), dan pelayanan (cepat, tepat, dan sopan). Dengan kompetisi akan terjadi pengelompokan perusahaan, yang kuat dan baik tetap hidup, yang lemah dan tidak baik akan mati (gulung tikar). Terjadilah kesenjangan ekonomi dan sosial yang semakin lebar dan dalam, sehingga sistem ekonomi dan sosial berdasarkan UUD 1945 Pasal 33 tidak mungkin tercapai. Pertanyaan adalah kemana perekonomian Indonesia akan dibawa dan oleh siapa?












Artikel 6

Pengertian dan Faktor Penyebab Perubahan Sosial

Author : Writed By Ali

Pengertian Perubahan Sosial dan Penyebab Perubahan Sosial

M. Rogers mengemukakan 3 bentuk perubahan Sosial, yaitu :
(1) Immanen Change yaitu suatu bentuk perubahan sosial yang berasal dari dalam sistem itu sendiri, yang sedikit atau tanpa inisiatif dari luar.
(2) Selective Contract Change ialah suatu bentuk perubahan sosial yang terjadi apabila outsider (orang luar) secara tidak sengaja dan spontan membawa ide-ide baru kepada anggota dari suatu sistem sosial.
(3) Direct Contract Change merupakan suatu bentuk perubahan sosial yang terjadi jika ide-ide atau cara-cara baru dibawa secara sengaja oleh outsider.
E. M. Roger mengatakan bahwa perkembangan ekonomi adalah suatu tipe dari perubahan sosial yang biasanya menyangkut kepada ketiga bentuk perubahan sosial di atas.

Sumber : Buku dalam Penulisan Pengertian Perubahan Sosial dan Faktor penyebab perubahan sosial :

- Ng. Philipus dan Nurul Aini, 2004. Sosiologi dan Politik. Penerbit PT Raja Grafindo Persada : Jakarta.

Artikel 7
Aktivitas dan Perubahan Kehidupan Manusia dalam Bidang Sosial, Ekonomi, Pendidikan dan Budaya
Berikut ini contoh aktivitas dan perubahan kehidupan manusia dalam bidang sosial, ekonomi, pendidikan, dan budaya.
2.    Ekonomi
Perubahan positif
 
Aktivitas dalam mata pencaharian penduduk dan peningkatan kesejahteraan kehidupan masyarakatnya karena pembangunan sarana dan prasarana dan infrastruktur.
 
Perubahan negatif
Aktivitas keseharian dan pola hidup keseharian masyarakat menjadi konsumtif dengan pesatnya perberkembangan dunia periklanan melalui media massa dan televisi.
Aktivitas berbelanja dari belanja di pasar tradisional beralih ke pasar-pasar modern, pasar online karena pesatnya pertumbuhan pusat-pusat perbelanjaan dan teknologi modern.




Artikel 8
Perubahan di Bidang Sosial Ekonomi
Sejak awal abad ke-19, pemerintah Belanda mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membiayai peperangan baik di Negeri Belanda sendiri (pemberontakan rakyat Belgia), maupun di Indonesia (terutama perlawanan Diponegoro) sehingga Negeri Belanda harus menanggung hutang yang sangat besar. Untuk menyelamatkan Negeri Belanda dari bahaya kebrangkrutan maka Johanes van den Bosch diangkat sebagai gubernur jenderal di Indonesia dengan tugas pokok menggali dana semaksimal mungkin untuk mengisi kekosongan kas negara, membayar hutang, dan membiayai perang. Untuk melaksanakan tugas berat itu, van den Bosch memusatkan kebijaksanaannya pada peningkatan produksi tanaman ekspor. Untuk itu, yang perlu dilakukan ialah mengerahkan tenaga rakyat tanah jajahan untuk melakukan penanaman tanaman yang hasilnya laku di pasaran dunia dan dilakukan dengan sistem paksa. Setelah tiba di Indonesia (1830) van den Bosch menyusun program kerja sebagai berikut.
  • Sistem sewa tanah dengan uang harus dihapus karena pemasukannya tidak banyak dan pelaksanaannya sulit.
  • Sistem tanam bebas harus diganti dengan tanam wajib dengan jenis-jenis tanaman yang sudah ditentukan oleh pemerintah.
  • Pajak atas tanah harus dibayar dengan penyerahan sebagian dari hasil tanamannya kepada pemerintah Belanda.
Apa yang dilakukan oleh van den Bosch itulah yang kemudian dikenal dengan nama sistem tanam paksa atau cultuur stelsel. Sistem tanam paksa yang diajukan oleh van den Bosch pada dasarnya merupakan gabungan dari sistem tanam wajib (VOC) dan sistem pajak tanah (Raffles). Pelaksanaan sistem tanam paksa banyak menyimpang dari aturan pokoknya dan cenderung untuk mengadakan eskploitasi agraria semaksimal mungkin.

Artikel 9

Selasa, 14 Januari 2014

DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL

3. Bidang ekonomi, semakin kompleksnya kebutuhan manusia akan barang dan jasa sehingga sektor industri dibangun secara besar-besaran untuk memproduksi barang. seseorang akan semakin mudah memperoleh barang dan jasa.

lia amalia 05.01

DAMPAK GLOBALISASI DALAM PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA SISWA SMP
Dalam perkembangan globalisasi  sekarang ini, maka bangsa Indonesia  harus memiliki sikap  selektif  terhadap   pengaruh  globalisasi   di berbagai  bidang diantaranya:
a.       Bidang ekonomi  ditandai adanya liberalisasi ekonomi serta perdagangan bebas. Adapun cara seperti ini akan berdampak terhadap negara miskin, yang mana negara akan semakin tergantung pada negara maju.
Di Indonesia  Ekonomi Pancasila sebagai  solusi. Sistem ekonomi pancasila ditopang oleh lima pilar yang membentuk satu kesatuan sistem  yang bersifat holistik. Sila Ketuhanan dan Kemanusiaan adalah dasar (landasan) sistemnya, sila Persatuan dan Kerakyatan merupakan cara (operasionalisasinya) dan sila Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia merupakan  tujuan yang hendak dicapainya. Mengacu pada rumusan ekonomi pancasila, Prof. Mbyarto maka dapat dikemukakan pilar sistem ekonomi pancasila meliputi ekonomika etik dan ekonomika humanistic (dasar), nasionalisme ekonomi dan demokrasi ekonomi (cara/metode operasionalisasi), dan ekonomi berkeadilan sosial (sebagai tujuan).

Artikel 11

Perubahan Sosial Ekonomi

Posted by Anna funedoo October 20, 2014 - 49 views - Filed in Sosial
Perubahan sosial secara umum dapat diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau berubahnya struktur/tatanan didalam masyarakat, meliputi pola pikir yang lebih inovatif, sikap, serta kehidupan sosialnya untuk mendapatkan penghidupan yang lebih bermartabat.
Pada dasarnya setiap masyarakat yang ada di muka bumi ini dalam hidupnya dapat dipastikan akan mengalami apa yang dinamakan dengan perubahan-perubahan. Adanya perubahan-perubahan tersebut akan dapat diketahui bila kita melakukan suatu perbandingan dengan menelaah suatu masyarakat pada masa tertentu yang kemudian kita bandingkan dengan keadaan masyarakat pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam masyarakat,pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus menerus, ini berarti bahwa setiap masyarakat pada kenyataannya akan mengalami perubahan-perubahan. 
Tahapan perubahan sosial ekonomi Soemarjan (1990) menyimpulkan bahwa hasrat akan perubahan sosial bisa berubah menjadi tindakan untuk mengubah kalau ada rangsangan yang cukup kuat untuk mengatasi hambatan-hambatan yang merintangi tahap permulaan proses perubahan.

Ada banyak aspek yang terjadi dalam perubahan sosial yaitu: politik, budaya, ekonomi, agama. Keanekaragaman dalam kegiatan sosial-ekonomi di suatu daerah merupakan sumber kekuatan dalam menghadapi fluktuasi ekonomi. Kalau ekonomi daerah tergantung kepada satu komoditi saja, penduduknya akan menderita lebih banyak kalau permintaan akan penghasilan itu hilang. Sebaliknya daerah yang sumber penghasilannya luas dapat dianggap sehat dan lebih kuat ekonominya (Kartodirdjo, 1994).
Jika dilihat dalam skala yang lebih kecil yaitu rumah tangga, maka dari pernyataan Kartodirejo tersebut diatas dapat dikatakan bahwa apabila rumah tangga yang tidak mengandalkan pendapatan dari satu sumber saja, maka kondisi sosial ekonominya akan lebih sehat dan kuat dalam menghadapi fluktuasi ekonomi.
Menurut Usman (1998), sebelum menentukan variabel ekonomi yang perlu dikaji, terlebih dahulu perlu diidentifikasi input dari suatu usaha atau kegiatan yang akan diintroduksi. Input tersebut antara lain mencakup kesempatan kerja yang tersedia, kesempatan untuk menambah pendapatan, munculnya organisasi-organisasi dan peraturan-peraturan baru serta kemungkinan adanya gangguan pada sumberdaya alam yang ada. Input tersebut amat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi masyarakat di sekitar usaha atau kegiatan.
Lebih jauh dikatakan Usman (1998) bahwa dalam melihat dampak dari suatu usaha atau kegiatan terdapat tiga isu pokok, yaitu : perubahan pola usaha ekonomi keluarga, perubahan pola kegiatan usaha, dan perubahan situasi kerja. Atas dasar tiga isu pokok tersebut, dapat ditentukan sekurang-kurangnya tiga variabel kunci, yaitu : pola usaha ekonomi, waktu kegiatan usaha ekonomi, serta kesempatan kerja.
Contoh Perubahan Sosial Di Bidang Ekonomi:
1. Berhutang
Kebiasaan berhutang dan mencicil sudah mulai tumbuh sejak ada gaya hidup boros. Mereka menjadi suka berutang untuk membeli kebutuhan pokok. Sementara untuk memenuhi keinginannya (bukan kebutuhan) yang mahal, mereka mencicilnya.
2. Korupsi
Sifat manusia yang tidak pernah puas dan cenderung lebih memikirkan dirinya sendiri menghasilkan budaya korupsi. Budaya ini tentu saja sangat merugikan negara. Seharusnya uang tersebut digunakan untuk membangun sarana yang baik untuk rakyat, malah digunakan untuk memenuhi rasa kerakusan para pejabat.
3. Gaya Hidup Konsumtif
Gaya hidup konsumtif adalah fenomena yang terjadi di jaman sekarang. Penyebab utamanya adalah rasa gengsi di masyarakat dan keinginan akan mengikuti sebuah trend. Salah satu contohnya yang fenomenal adalah fenomena mengganti smartphone baru dan makan-makanan yang mewah. Itu disebabkan karena mereka merasa gengsi dan tergiur dengan diskon yang tidak biasa terjadi. Akibatnya, kemiskinan semakin merajalela akibat sifat boros ini.
4. Kesadaran Menabung Meningkat
Kesadaran untuk menabung semakin meningkat. Hal ini mungkin dikarenakan bunga deposito yang semakin tinggi dan berbagai penawaran menarik dari bank. Selain itu, kesadaran untuk berasuransi juga meningkat.
Artikel 12

Modernisasi

By: Fahdisjro Nyoy On: 2:01 PM  In: Sosiologi-XII  1 comment
Gejala-Gejala Modernisasi
Modernisasi sejatinya meliputi bidang-bidang yang sangat kompleks. Mau tidak mau masyarakat harus menghadapi modernisasi. Modernisasi pada awal-awalnya akan mengakibatkan disorganisasi dalam masyarakat. Terlebih lagi bila sudah menyangkut nilai-nilai dan norma-norma masyarakat. Modernisasi bersifat preventif dan konstruktif, memproyeksikan kecenderungan yang ada dalam masyarakat di masa mendatang.
Dalam melakukan modernisasi tidak boleh menghilangkan unsur-unsur asli kebudayaan Indonesia yang masih relevan. Bangsa Indonesia harus selektif mencapai kemajuan, dengan memfilter (menyaring) unsur-unsur kebudayaan dari luar yang tidak sesuai dengan ideologi dan nilai-nilai moral. Modernisasi bukan berarti westernisasi (pembaratan), sebab banyak budaya Barat yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. Gejala-gejala modernisasi di Indonesia mencakup berbagai bidang, yakni sebagai berikut.
1. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Gejala yang menyangkut ilmu pengetahuan dan teknologi ditandai dengan penemuan dan pembaharuan berbagai unsur teknologi baru yang dapat meningkatkan kemakmuran rakyat.
2. Bidang Ekonomi.
Kemajuan bidang ekonomi mendorong kemajuan bidang industri menggunakan tenaga modern untuk meningkatkan ekspor dan menarik tenaga kerja. Bidang ekonomi yang menyangkut pola produksi, distribusi, dan konsumsi melibatkan seluruh komponen masyarakat.
3. Politik dan Ideologi.
Upaya demokratisasi yang berasaskan Pancasila dengan mengedepankan persamaan-persamaan hak atas ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan, sosial tanpa diskriminasi, menjadi harapan dan tumpuan bagi segenap lapisan masyarakat. Gejala politik dan ideologi modern bercirikan pemikiran-pemikiran baru tentang ketatanegaraan dan falsafah negara.
4. Bidang Agama dan Kepercayaan.
Membangun kehidupan agama dan kepercayaan yang mampu memegang keseimbangan antara nilai-nilai keagamaan dan kemajuan, keseimbangan meraih nilai kehidupan dunia dan akhirat. Kemajuan dalam bidang agama dan kepercayaan menyangkut aspek nilai maupun pemikiran yang terbuka terhadap berbagai perubahan, dan menyikapinya secara positif, sehingga ada keseimbangan antara masalah-masalah keduniawian dan masalah-masalah non-keduniawian.
Perubahan sosial terjadi di setiap bagian kehidupan manusia. Mau tidak mau, suka tidak suka, manusia harus menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Perubahan-perubahan yang sifatnya positif, harus diterima dengan tangan terbuka. Sementara perubahan sosial budaya yang merugikan nilai-nilai budaya masyarakat dan bangsa harus diantisipasi. Upaya penanggulangan perubahan negatif bisa dilakukan dengan pengembangan pendidikan moral dan agama. Keduanya menuntun bangsa Indonesia untuk menunjukkan eksistensinya sebagai bangsa yang mempunyai budaya adiluhung.

Referensi:
Sunarto, Kamanto. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE – UI.
Richard Osborne & Borin Van Loon. 1996. Mengenal Sosiologi For Beginner. Bandung: Mizan
Artikel 13.

Perubahan Sosial

Setahun sudah duet Jokowi-Ahok memimpin DKI Jakarta. Masyarakat Jakarta mengaku puas terhadap kinerja duet ini. Nilai tertinggi jatuh pada penanganan sosial.
Indo Barometer melakukan survei untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat tentang kepemimpinan Jokowi-Ahok dalam setahun. Survei ini dilakukan di seluruh wilayah Provinsi DKI Jakarta. Waktu pengumpulan data pada tanggal 4-10 Oktober 2013, dengan metode penarikan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling. Jumlah responden 400 responden (margin of error sebesar 4,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner.
Berdasarkan data yang diterima detikcom, Kamis (17/10/2012), Salah satu kuiosioner menanyakan penilaian kondisi DKI Jakarta saat ini dari berbagai bidang. Jawabannya adalah 73,8 persem masyarakat mengaku ada perubahan sosial yang lebih baik di tangan Jokowi-Ahok. Masalah keamanan berada di urutan nomor dua dengan hasil 62,8 persen yang menyatakan ada perubahan yang lebih baik.
Pada bidang hukum, sebanyak 40,3 persen menyatakan ada perubahan lebih baik, pada bidang ekonomi 43,5 persen dan pada bidang politik hanya 22,5 persen. "Pada bidang politik sebanyak 39 persen masyarakat tidak ada perubahan," kata Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari dalam ringkasan hasil survei Indo Baromter.
Menurut M Qodari, dari hasil survei terlihat adanya perubahan di beberapa bidang jika dibandingkan dengan 1 tahun sebelum Jokowi memimpin Jakarta. Adalah kondisi sosial sebanyak 73,8 persen disusul penanganan banjir 63,5 persen dan keamanan 62,8%.
"Bidang lainnya masih banyak yang tidak ada perubahan, terutama penanganan kemacetan," ungkapnya.(IRIB Indonesia/MZ/Detikcom)





Artikel 14.
PERUBAHAN SOSIAL DAN KULTURAL
 Diposkan oleh kulingetik Kamis, 19 November 2009 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan masyarakat manusia senantiasa mengalami suatu perubahan. Perubahan-perubahan pada kehidupan masyarakat tersebut merupakan fenomena sosial yang wajar, oleh karena setiap manusia mempunyai kepentingan yang tak terbatas. Perubahan-perubaha akan nampak setelah tatanan sosial dan kehidupan masyarakat yang lama dapat dibandingkan dengan tatanan dan kehidupan masyarakat yang baru. Kehidupan masyarakat desa, dapat dibandingkan antara sebelum dan sesudah mengenal surat kabar, listrik dan televisi. Menurut Selo Soemardjan dan soelaiman Soemardi, baahwa perubahan-perubahan di luar bidang ekonomi tidak dapat dihindarkan oleh karena setiap perubahan dalam suatu lembaga kemasyarakatan akan mengakibatkan pula perubahan-perubahan di dalam lembaga-lembaga kemasyarakat lainnya, oleh karena antara lembaga – lembaga kemasyarakatan tersebut selalu ada proses saling mempengaruhi secara timbal balik. Perubahan-perubahan pada dewasa ini nampak sangat cepat, sehingga semakin sulit untuk mengetahui bidang-bidang manakah yang akan berubah terlebih dahulu dalam kehidupan masyarakat. Perubahan sosial itu adalah perubahan fungsi kebudayaan dan perilaku manusia dalam masyarakat dari keadaan tertentu ke keadaan yang lain para sosiolog pernah mengadakan klasifikasi antara masyarakat-masyarakat statis dan dinamis. Masyarakat yang statis di maksudkan masyarakat yang sedikit sekali mengalami perubahan dan berjalan lambat. Masyarakat yang dinamis adalah masyarakat-masyarakat yang mengalami berbagai perubahan yang cepat. Jadi setiap masyarakat, pada suatu masa dapat dianggap sebagai masyarakat yang statis.

Artikel 15.
Sabtu, 08 Agustus 2015 | 13:32

Mari Elka: Ekonomi Kreatif, Kekuatan Baru Ekonomi Indonesia

Mantan Menteri Perdagangan dan Menteri Pariwisata, Mari Elka Pangestu dan rumah riset presisi (Beritasatu.com/M. Nurhadi Pratomo)
Jakarta - Dalam pidato ilmiahnya saat pengukuhan sebagai Guru Besar tidak tetap di bidang Ekonomi Internasional, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Prof. Dr. Mari Elka Pangestu mengatakan, posisi sektor ekonomi kreatif akan menjadi semakin penting bagi masa depan perekonomian Indonesia.
"Ekonomi kreatif, adalah kekuatan baru ekonomi Indonesia untuk menjawab tantangan globalisasi dan mencapai pembangunan berkelanjutan," kata Mari dalam pidatonya yang berjudul "Globalisasi, Kekuatan Ekonomi Baru dan Pembangunan Berkelanjutan: Implikasi bagi Indonesia" di depan Senat Guru Besar Universitas Indonesia dan tamu undangan di Kampus UI, Depok, Sabtu (8/8).
Menurut Mari, dalam menghadapi berbagai perubahan tatanan ekonomi dunia, Indonesia membutuhkan diversifikasi sumber kekuatan baru sebagai sumber pembangunan ekonomi dengan tetap mempertahankan konsep pembangunan berkelanjutan atau sustainable development. Indonesia membutuhkan kapabilitas yang jauh lebih beragam, karena di masa datang, negara seperti inilah yang mampu menghadapi dinamika persaingan yang makin ketat. "Potensi terbesar itu adalah pada ekonomi kreatif," katanya.
Menurut Mari, ada beberapa perkembangan yang perlu dicermati diantaranya perubahan mendasarkan dalam tatanan ekonomi dunia saa. Apa yang terjadi beberapa waktu belakangan ini dalam dinamika menunjukan bahwa sektor komoditas kian sulit diandalkan.
"Perlambatan pertumbuhan dunia yang tengah terjadi bukan hanya karena siklus ekonomi semata, tapi karena telah berakhirnya boom komoditas," katanya.
Oleh karena itu, lanjut dia, negara seperti Indonesia perlu meningkatkan diversifikasi sumber pertumbuhan, termasuk di bidang ekspor, dengan memupuk sumber daya saing dan membangun sumber pertumbuhan baru. Indonesia membutuhkan pendekatan baru dalam membangun daya saing. Pendekatan industrialisasi dengan membangun kekuatan dari hulu sampai hilir seperti selama ini, sudah tidak cukup lagi.
"Daya saing tidak lagi diukur dari biaya produksi seperti upah tenaga kerja yang murah dan atau keberadaan bahan baku, tapi juga oleh sektor lain seperti jasa logistik yang efisien," tambah dia.
Perkembangan teknologi dan dunia yang kian terintegrasi, kata Mari Elka, telah membuat sistem produksi semakin terfragmentasi. Persaingan kini tidak hanya menuntut harga produksi yang murah, tapi besaran nilai tambah yang ditawarkan.
"Oleh karena itu, proses produksi yang terbagi dalam serangkaian gugus tugas (tasks) seperti penelitian dan pengembangan, desain, proses produksi, pengemasan, pengujian produk, pemasaran dan seterusnya, perlu dibangun dan dikembangkan dalam satu kesatuan mata rantai nilai tambah global (Global Value Chain, GVC)," ujarnya.
Mari mengemukakan, dalam pendekatan terbaru ilmu ekonomi, mengandalkan modal dan teknologi tidak lagi cukup untuk mempertahankan daya saing dan pertumbuhan ekonomi, ia juga membutuhkan kreativitas; ide kreatif dan inovatif. Model ekonomi terbaru, telah memasukan kreativitas sebagai faktor endogen. Implikasinya, kata dia, pendekatan pembangunan mulai beralih dari berbasis teknologi informasi dan pengetahuan, ke berbasis kreativitas dan inovasi atau dikenal sebagai ekonomi gelombang ke-empat.
"Oleh karena itu, isu-isu terkait hak intelekual (HAKI) menjadi semakin strategis agar ide dan inovasi dapat terus mengalir dari pencetus ide. Ini untuk menjamin pemilik ide kreatif bisa memperoleh manfaat ekonomi, keuntungan yang layak, dari kreativitas serta menjadi stimulus muncul ide baru. Sesungguhnya inilah esensi dari ekonomi kreatif," kata Mari.
Lebih dari itu, menurut Mari, ekonomi kreatif juga berdampak positif pada budaya dan pelestarian lingkungan. Kenapa? Kenyataannya, inspirasi kreatif sebagian besar berasal dari warisan budaya dan lingkungan. "Jadi, dalam ekonomi kreatif, jalur ekonomi, jalur budaya dan jalur melestarikan lingkungan bertemu menciptakan nilai tambah tinggi dengan dukungan pengetahuan dan teknologi yang ada," katanya.
Menurut Mari, dari data yang ada ekonomi kreatif yang terdiri dari 15 industri kreatif telah berhasil memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB yaitu mencapai 7 persen, bahkan pada 2014 berhasil tumbuh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Yang tidak kalah penting, ekonomi kreatif juga berdampak positif pada peningkatan citra dan identitas bangsa, dan terhadap program pembangunan berkelanjutan karena mengunakan sumber daya yang terbarukan, dan iklim usaha inovatif.
Berdasarkan semua itu, dalam pidatonya, Mari menawarkan suatu model holistic pengembangan ekonomi kreatif yang menjadi pertemuan antara kreativitas, modal budaya, sosial dan ekonomi, dan menjawab isu strategis yang dihadapi dalam mengembangkan ekonomi kreatif.
Dari sisi input modal utama pengembangan ekonomi kreatif adalah tersedianya orang kreatif untuk menghasilkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya dan menciptakan nilai tambah. Demografi Indonesia sangat mendukung, karena dari jumlah penduduk 250 juta, 50 persen diantaranya tergolong usia sangat produktif, dibawah umur 30 tahun. Tinggal mendorong kreativitas baik melalui pendidikan formal, non formal dan informal serta pengembangan talenta.
Modal lain adalah sumber warisan budaya dan keragaman hayati yang melimpah, menjadi sumber inspirasi dan bahan baku produk kriya sampai ke obat, kosmetik dan makanan. "Disini pentingnya pengarsipan dan akses arsip kepada semua pemegang kepentingan, dan penelitian dan pengembangan," katanya.
Menurut Mari, agar potensi ekonomi kreatif bisa digarap secara optimal dan menjadi tulang punggung perekonomian, Indonesia perlu lebih meningkatkan akses pasarnya. Sesuai dengan karakteristiknya, akses ekonomi kreatif memerlukan fasilitas pameran, exhibisi, pertunjukkan yang memerlukan prasarana fisik seperti gedung pertunjukkan dan non fisik tertentu.
Untuk dukungan finansial, Mari melihat, selain dari pemerintah juga perlu digalang dana hibah atau dana dukungan dari swasta, modal ventura dan angel investor. "Pelaku ekonomi kreatif sulit menjangkau perbankan, karena pembiayaannya membutuhkan jaminan dan perbankan belum memahami industri kreatif," katanya.
Pemerintah perlu mendukung dengan memberi insentif pajak atau dukungan lain bagi swasta yang membiayai pengembangan industri kreatif. Apreasiasi terhadap hasil ekonomi kreatif juga perlu dikembangkan dengan mendorong masyarakat lebih memahami suatu karya kreatif dan dengan demikian memahami nilainya.
Dari sisi pemerintah, yang paling utama adalah komitmen politis yang konsisten untuk menciptakan iklim yang kondusif. Inilah yang dilakukan Pemerintah Korea dan Inggeris sehingga industri kreatif mereka kini mendunia. Pemerintah juga bisa berperan untuk meningkatkan apresiasi dan literacy, pengarsipan, dan pengarusutamaan kreativitas dengan tersedianya ruang publik untuk memberi kebebasan berekspresi, berpikir kritis dan kreatif.
Ruang publik yang penting seperti gedung kesenian, gallery dan ruang untuk komunitas kreatif harus diciptakan. Pemerintah juga perlu memberi insentif pajak, ruang publik untuk kreativitas dan dukungan program. "Ini kuncinya," ujar Mari.
"Dari semua fakta dan data yang ada, ekonomi kreatif adalah potensi kekuatan baru ekonomi Indonesia. Pembahasan mengenai ekonomi kreatif dan model yang kami tawarkan diharapkan bisa mendorong untuk penelitian lebih lanjut baik dari segi teori dan konsep, maupun empiris yang akan berguna bagi semua pihak yang percaya dan mempunyai komitmen untuk mengembangkan ekonomi kreatif," kata Mari.
Feriawan Hidayat/FER
Artikel 16.
Pengaruh Perkembangan Kewirausahaan Terhadap Tingkat Perekonomian Indonesia
Penulis:
wahyu habib putra
Abstrak
Beberapadecadeini telah terjadi perubahan sosial dan ekonomi yang sangat pesat sebagai akibat dari proses globalisasi dalam berbagai sektor. Di sisi lain keprihatinan pun muncul oleh adanya inflasi dan pengangguran. Di negara yang dilanda keterpurukan dalam berbagai aspek seperti Indonesia sekarang ini, kekurangan pangan dan bencana kelaparan serta tragedi kemanusiaan sering terjadi. Melihat fakta-fakta di atas tentang kehidupan ekonomi yang tidak berjalan dengan baik, sejauh mana pengaruh kewirausahaan dapat memberikan solusi ekonomi, lingkungan, sosial maupun masalah kemanusiaan. Kewirausahaan memiliki peranan yang sangat penting dalam segala dimensi kehidupan ini. Sumbangan kewirausahaan terhadap pembangunan ekonomi suatu negara tidaklah disangsikan lagi. Suatu negara agar dapat berkembang dan dapat membangun secara ideal, harus memiliki wirausahawan sebesar 2% dari jumlah penduduk. Kehadiran dan peranan wirausaha akan memberikan pengaruh terhadap kemajuan perekonomian dan perbaikan pada keadaan ekonomi di Indonesia sekarang ini karena wirausaha dapat menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, meningkatkan pemerataan pendapatan, memanfaatkan dan memobilisasi sumberdaya untuk meningkatkan produktivitas nasional, serta meningkatkan kesejahteraan pemerintahan. Sumber-sumber utama bagi pertumbuhan ekonomi adalah adanya investasi-investasi yang mampu memperbaiki kualitas modal atau sumber daya manusia dan fisik, yang selanjutnya berhasil meningkatkan kuantitas sumber daya produktif dan yang bisa menaikkan produktivitas seluruh sumber daya melalui penemuan-penemuan baru, inovasi, dan kemajuan teknologi. Berdasarkan pendapat tersebut, kewirausahaan dapat mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Artikel 17

DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP PERIKANAN DI INDONESIA

  • 24 September 2014, 06:44:41 WIB
1. Latar Belakang
Sekarang ini pembicaraan tentang globalisasis semakin marak di bicarakan oleh berbagai kalangan, sebenarnya ada apa dengan globalisasi sehingga pengaruhnya begitu marak di bicarakan dan diekspos oleh berbagai media masa? Globalisasi adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, bud
aya popular, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas – batas negara menjadi bias.


Di sisi lain ada yang memandang globalisasi sebagai proyek yang di usung negara-negara adikuasa, sehinga bisa saja memilki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah sebuah kapitalisme dalam bentuknya yang paling mutakhir. Negara – negara yang kuat dan kaya, praktis akan mengendalikan ekonomi dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing . sebab globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia.

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada dalam kehidupan masyarakat, termasuk bidang perikanan yang sekarang ini sedang dalam tahap pengembangan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi, namun tidak lepas dari kendala akibat dari perkembangan globalisasi, yang tidak hanya membawa dampak positif tapi juga membawa dampak negatif bagi kemajuan perikanan di indonesia.

Pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya hubungan antar negara di dunia, terutama di negara-negara sedang berkembang seperti indonesia tidak hanya membuat lahan daratan semakin sempit, tetapi juga mendorong peningkatan jumlah kebutuhan hidup antara lain membutuhkan pangan hewani seperti ikan. Laju peningkatan kebutuhan ikan di pacu juga oleh peningkatan tingkat kehidupan dan pengetahuan masyarakat tentang keunggulan ikan. Di bandingkan dengan sumber protein lain. Jadi dalam hal ini peningkatan produksi dan kebutuhan akan ikan semakin tinggi baik di dalam maupun di luar negeri, sehingga hubungan dengan negara-negara lain semakin meningkat.

Lalu bagaimana dengan maraknya kapal-kapal asing yang masuk di kawasan perairan laut indonesia di tambah dengan maraknya pencurian ikan (ilegal fishing) yang di lakukan oleh kapal – kapal asing. Selain itu adanya isu-isu globalisasi perikanan, seperti isu globalisasi produksi,dimana negara-negara krisis faktor produksi yang sama, seperti krisis energi dengan kenaikan harga bahan bakar minyak ( BBM ), disini tergambarkan bahwa bahwa produksi perikanan suatu negara sangat tergantung pada kondisi sumberdaya ikan dan energi global. Isu yang lain adalah di dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di mana setiap negara dituntut untuk tunduk pada aturan – aturan internasional yang berlaku sehingga kita terbatas di dalam melakukan kegiatan ekspor ikan ekonomis seperti ikan tuna. Adanya isu perdagangan dan isu subsidi, jadi dalam hal ini krisis finansial global terjadi dan berdampak langsung terhadap perekonomian perikanan dunia.



Artikel 18

Perubahan Budaya Akibat Pembangunan

Jika kita bicara budaya dalam pengertian seperti yang dikemukakan E.B. Taylor, seorang antropolog, budaya adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat. Sehingga yang dimaksud dengan pergeseran budaya adalah pergeseran nilai dari semua cakupan budaya di atas.
Budaya masyarakat Indonesia bisa dirujuk pada kebudayaan tradisional pedesaan. Hal ini dikarenakan pada dasarnya kebudayaan tumbuh dan berkembang dari kelompok masyarakat pedesaan. Adanya modernisasi dan perubahan sosial menyebabkan perubahan kebudayaan pada masyarakat pedesaan. Dinamika perubahan budaya yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain menyebabkan perbedaan signifikansi perubahan kebudayaan itu sendiri. Dengan kata lain, adanya perbedaan kekuatan kebudayaan pada suatu daerah dengan daerah lainlah yang membuat budaya pada suatu daerah masih asli dan daerah lain sudah terakulturasi.
Daerah yang awalnya dulu pedesaan namun karena letak geografis yang strategis menempatkan daerah itu dalam pusat aktivitas sosial (misalnya pusat kota, bandar dagang, dsb) lebih cenderung mengalami pergeseran budaya yang lebih cepat daripada daerah pinggiran yang lebih sedikit diterpa invasi kebudayaan asing. Daerah seperti ini berubah dari pedesaan menjadi perkotaan, orangnya berubah dari orang desa menjadi orang kota, budaya, nilai dan norma juga berubah dari budaya pedesaan yang Gemeinschaft menjadi budaya kota yang Gesellschaft.
Budaya masyarakat pedesaan (yang umumnya bercorak pertanian) bisa diidentikkan dengan budaya yang original. Misalnya dalam hal hubungan antar manusia masyarakat pedesaan lebih guyub dan familier, dalam hal keagamaan yang cenderung bergairah, dalam hal makanan yang banyak mengambil langsung dari alam, dan permainan yang lebih mengandalkan gerak dan kekuatan tubuh. Namun kini sangat terasa bagaimana pola-pola kebudayaan seperti itu semakin melemah.
Pergeseran Budaya dan Regulasi Pemerintah
Salah satu penyebab pergeseran budaya masyarakat pedesaan adalah akibat modernisasi, dan modernisasi yang benar-benar mengakibatkan pergeseran masif adalah modernisasi terstruktur dalam bingkai regulasi (peraturan) pemerintah, yang dimulai sejak masa orde baru. Perlu diperhatikan bahwa analisa dibawah ini tidak bersifat menyalahkan kebijakan pemerintah, namun hanya sebatas menguak perubahan yang terjadi.
Studi budaya sudah banyak dilakukan di Indonesia. Salah satu studi budaya yang penting dilakukan oleh Soemardjan dan Breazeale mengenai perubahan kebudayaan masyarakat pedesaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebijakan pemerintah Orde Baru saat itu yang bertumpu pada modernisasi sebagaimana dilakukan banyak negara berkembang telah merubah paradigma budaya masyarakat pedesaan. Kebijakan pemerintah yang dimaksud misalnya program listrik masuk desa, ABRI masuk desa, PKK, pemberantasan buta huruf, KB, KUD dan intensifikasi pertanian.
Kebijakan pemerintah ini bertumpu pada perpektif modernisasi dan asumsi bahwa pemerintah pusat “superior” sedangkan masyarakat tradisional pedesaan “inferior”. Karena pemerintah menganggap sistem modern lebih maju, maka melalui kebijakan pembangunan pedesaan terjadi penekanan akan perubahan pola-pola budaya dan aktifitas masyarakat sehari-hari (everyday life). Tujuan akhir kebijakan pembangunan pedesaan yang dilakukan dulu pada dasarnya adalah peningkatan taraf ekonomi, karena jika taraf ekonomi masyarakat pedesaan meningkat maka otomatis taraf ekonomi bangsa akan meningkat juga. Pergeseran yang nyata terjadi adalah terkikisnya budaya tradisional diganti dengan budaya modern. Padahal, pada dasarnya masyarakat pedesaan sudah memiliki pola budaya dan sistem sosial mereka sendiri. Dalam banyak hal, modernisasi tidak hanya meningkatkan taraf ekonomi, namun juga menggeser paradigma budaya yang lebih substansial: pola hubungan antar masyarakat.
Pergeseran Budaya dan Ke”malu”an Menggunakannya
Dalam perspektif fungsionalisme, perubahan budaya masyarakat pedesaan ini terjadi diawali dengan adanya tekanan dari pemerintah (misalnya peraturan, sanksi, iming-iming, dll) lalu ada penolakan dari sistem lama, integrasi antara keduanya dan akhirnya dicapai titik keseimbangan baru. Karena pada awalnya terjadi kesenjangan budaya, maka pemerintah membutuhkan agen-agen penyalur perubahan budaya ini. Pada masa orde baru, elite pemerintahan birokrasi desa yang dipantau ketat berperan aktif dalam menyalurkan perubahan kebudayaan ini.
Ada kalanya perubahan kebudayaan ini mendapat penolakan dari beberapa pihak. Namun sikap represif dan antipati segera akan muncul dan menyebabkan kelompok penolak perubahan budaya ini seolah-olah tersingkir dari lingkungan sosialnya. Seringkali terjadi penamaan status-status kepada kelompok yang menolak perubahan budaya ini. Misalnya saja orang tersebut dikatakan “kuno dan tentinggal”, “ndeso”, “tidak taat aturan” dan sebagainya. Penyikapan sosial inilah yang secara perlahan merubah penolakan (resistan) kepada penerimaan. Perlahan-lahan kebudayaan baru diterapkan dan kebudayaan lama ditinggalkan. Kalaupun kebudayaan lama masih dilakukan itupun sangat jarang.
Misalnya saja program listrik masuk desa dengan sangat cepat akan diikuti invasi teknologi, orang mulai beli radio, televisi, lemari es, mesin cuci dan sebagainya. Akses informasi yang dibawa oleh masing-masing alat komunikasi ini kemudian membawa nilai-nilai baru bagi warga desa.
Inovasi teknologi pertanian dari yang semula menggunakan peralatan sederhana menjadi mesin modern, dari yang semula membajak dengan binatang diganti membajak dengan mesin, semula menumbuk dengan alu berganti menumbuk otomatis dengan mesin, semula mengangkut hasil pertanian dengan pedati berganti dengan mobil. Kenyataan ini tidak hanya merubah paradigma masyarakat yang semula motivasi bertani adalah bertahan hidup, menjadi orientasi profit finansial. Disamping itu juga, percepatan panen padi membawa budaya instan dan sikap tergesa-gesa.
Program Keluarga Berencana (KB) merubah kebiasaan masyarakat dari “keluarga besar” menjadi—meminjam istilah pemerintah—“keluarga kecil sejahtera”. Pergeseran ini tidak hanya merubah pola hubungan keluarga dari “keterkaitan genetik/persaudaraan” menjadi “keterkaitan reproduksi dan finansial”, namun juga mengeliminasi adanya organisasi kultural masyarakat dalam sebuah “keluarga besar”.
Teknologi permainan merubah jenis permainan kelompok menjadi permainan modern teknologis yang cenderung individual. Misalnya permainan tradisional gobak sodor, gundu, patek lele, jumpritan tidak lagi populer dan diganti dengan permainan baru seperti Play Station (PS) dan game. Permainan tradisonal yang pada dasarnya menumbuhkembangkan psikomotorik-afektif diganti dengan permainan modern yang mengarah pada kognitif saja. Ini berpengaruh terhadap karakter anak setelah ia berkembang dan hidup dalam lingkungan sosial yang lebih luas.
Sehingga, kemudian jika ada orang atau sekelompok orang yang memiliki atau memelihara pola-pola budaya lama, dengan segera ia akan dicap buruk dan disingkirkan dari kelompok. Boleh jadi orang seperti ini akan dianggap menghalangi kemajuan, anti-progresifitas. Perlakuan ini membuat orang kemudian malu untuk menggunakan budaya lama dalam kehidupan sehari-hari, dan karena tidak pernah digunakan lagi budaya itu berangsur-angsur hilang. []
Artikel 19

Perubahan Budaya Akibat Pembangunan

jika kita bicara budaya dalam pengertian seperti yang dikemukakan E.B. Taylor, seorang antropolog, budaya adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai warga masyarakat. Sehingga yang dimaksud dengan pergeseran budaya adalah pergeseran nilai dari semua cakupan budaya di atas.
Budaya masyarakat Indonesia bisa dirujuk pada kebudayaan tradisional pedesaan. Hal ini dikarenakan pada dasarnya kebudayaan tumbuh dan berkembang dari kelompok masyarakat pedesaan. Adanya modernisasi dan perubahan sosial menyebabkan perubahan kebudayaan pada masyarakat pedesaan. Dinamika perubahan budaya yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain menyebabkan perbedaan signifikansi perubahan kebudayaan itu sendiri. Dengan kata lain, adanya perbedaan kekuatan kebudayaan pada suatu daerah dengan daerah lainlah yang membuat budaya pada suatu daerah masih asli dan daerah lain sudah terakulturasi.
Daerah yang awalnya dulu pedesaan namun karena letak geografis yang strategis menempatkan daerah itu dalam pusat aktivitas sosial (misalnya pusat kota, bandar dagang, dsb) lebih cenderung mengalami pergeseran budaya yang lebih cepat daripada daerah pinggiran yang lebih sedikit diterpa invasi kebudayaan asing. Daerah seperti ini berubah dari pedesaan menjadi perkotaan, orangnya berubah dari orang desa menjadi orang kota, budaya, nilai dan norma juga berubah dari budaya pedesaan yang Gemeinschaft menjadi budaya kota yang Gesellschaft.
Budaya masyarakat pedesaan (yang umumnya bercorak pertanian) bisa diidentikkan dengan budaya yang original. Misalnya dalam hal hubungan antar manusia masyarakat pedesaan lebih guyub dan familier, dalam hal keagamaan yang cenderung bergairah, dalam hal makanan yang banyak mengambil langsung dari alam, dan permainan yang lebih mengandalkan gerak dan kekuatan tubuh. Namun kini sangat terasa bagaimana pola-pola kebudayaan seperti itu semakin melemah.
Pergeseran Budaya dan Regulasi Pemerintah
Salah satu penyebab pergeseran budaya masyarakat pedesaan adalah akibat modernisasi, dan modernisasi yang benar-benar mengakibatkan pergeseran masif adalah modernisasi terstruktur dalam bingkai regulasi (peraturan) pemerintah, yang dimulai sejak masa orde baru. Perlu diperhatikan bahwa analisa dibawah ini tidak bersifat menyalahkan kebijakan pemerintah, namun hanya sebatas menguak perubahan yang terjadi.
Studi budaya sudah banyak dilakukan di Indonesia. Salah satu studi budaya yang penting dilakukan oleh Soemardjan dan Breazeale mengenai perubahan kebudayaan masyarakat pedesaan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kebijakan pemerintah Orde Baru saat itu yang bertumpu pada modernisasi sebagaimana dilakukan banyak negara berkembang telah merubah paradigma budaya masyarakat pedesaan. Kebijakan pemerintah yang dimaksud misalnya program listrik masuk desa, ABRI masuk desa, PKK, pemberantasan buta huruf, KB, KUD dan intensifikasi pertanian.
Kebijakan pemerintah ini bertumpu pada perpektif modernisasi dan asumsi bahwa pemerintah pusat “superior” sedangkan masyarakat tradisional pedesaan “inferior”. Karena pemerintah menganggap sistem modern lebih maju, maka melalui kebijakan pembangunan pedesaan terjadi penekanan akan perubahan pola-pola budaya dan aktifitas masyarakat sehari-hari (everyday life). Tujuan akhir kebijakan pembangunan pedesaan yang dilakukan dulu pada dasarnya adalah peningkatan taraf ekonomi, karena jika taraf ekonomi masyarakat pedesaan meningkat maka otomatis taraf ekonomi bangsa akan meningkat juga. Pergeseran yang nyata terjadi adalah terkikisnya budaya tradisional diganti dengan budaya modern. Padahal, pada dasarnya masyarakat pedesaan sudah memiliki pola budaya dan sistem sosial mereka sendiri. Dalam banyak hal, modernisasi tidak hanya meningkatkan taraf ekonomi, namun juga menggeser paradigma budaya yang lebih substansial: pola hubungan antar masyarakat.
Pergeseran Budaya dan Ke”malu”an Menggunakannya
Dalam perspektif fungsionalisme, perubahan budaya masyarakat pedesaan ini terjadi diawali dengan adanya tekanan dari pemerintah (misalnya peraturan, sanksi, iming-iming, dll) lalu ada penolakan dari sistem lama, integrasi antara keduanya dan akhirnya dicapai titik keseimbangan baru. Karena pada awalnya terjadi kesenjangan budaya, maka pemerintah membutuhkan agen-agen penyalur perubahan budaya ini. Pada masa orde baru, elite pemerintahan birokrasi desa yang dipantau ketat berperan aktif dalam menyalurkan perubahan kebudayaan ini.
Ada kalanya perubahan kebudayaan ini mendapat penolakan dari beberapa pihak. Namun sikap represif dan antipati segera akan muncul dan menyebabkan kelompok penolak perubahan budaya ini seolah-olah tersingkir dari lingkungan sosialnya. Seringkali terjadi penamaan status-status kepada kelompok yang menolak perubahan budaya ini. Misalnya saja orang tersebut dikatakan “kuno dan tentinggal”, “ndeso”, “tidak taat aturan” dan sebagainya. Penyikapan sosial inilah yang secara perlahan merubah penolakan (resistan) kepada penerimaan. Perlahan-lahan kebudayaan baru diterapkan dan kebudayaan lama ditinggalkan. Kalaupun kebudayaan lama masih dilakukan itupun sangat jarang.
Misalnya saja program listrik masuk desa dengan sangat cepat akan diikuti invasi teknologi, orang mulai beli radio, televisi, lemari es, mesin cuci dan sebagainya. Akses informasi yang dibawa oleh masing-masing alat komunikasi ini kemudian membawa nilai-nilai baru bagi warga desa.
Inovasi teknologi pertanian dari yang semula menggunakan peralatan sederhana menjadi mesin modern, dari yang semula membajak dengan binatang diganti membajak dengan mesin, semula menumbuk dengan alu berganti menumbuk otomatis dengan mesin, semula mengangkut hasil pertanian dengan pedati berganti dengan mobil. Kenyataan ini tidak hanya merubah paradigma masyarakat yang semula motivasi bertani adalah bertahan hidup, menjadi orientasi profit finansial. Disamping itu juga, percepatan panen padi membawa budaya instan dan sikap tergesa-gesa.
Program Keluarga Berencana (KB) merubah kebiasaan masyarakat dari “keluarga besar” menjadi—meminjam istilah pemerintah—“keluarga kecil sejahtera”. Pergeseran ini tidak hanya merubah pola hubungan keluarga dari “keterkaitan genetik/persaudaraan” menjadi “keterkaitan reproduksi dan finansial”, namun juga mengeliminasi adanya organisasi kultural masyarakat dalam sebuah “keluarga besar”.
Teknologi permainan merubah jenis permainan kelompok menjadi permainan modern teknologis yang cenderung individual. Misalnya permainan tradisional gobak sodor, gundu, patek lele, jumpritan tidak lagi populer dan diganti dengan permainan baru seperti Play Station (PS) dan game. Permainan tradisonal yang pada dasarnya menumbuhkembangkan psikomotorik-afektif diganti dengan permainan modern yang mengarah pada kognitif saja. Ini berpengaruh terhadap karakter anak setelah ia berkembang dan hidup dalam lingkungan sosial yang lebih luas.
Sehingga, kemudian jika ada orang atau sekelompok orang yang memiliki atau memelihara pola-pola budaya lama, dengan segera ia akan dicap buruk dan disingkirkan dari kelompok. Boleh jadi orang seperti ini akan dianggap menghalangi kemajuan, anti-progresifitas. Perlakuan ini membuat orang kemudian malu untuk menggunakan budaya lama dalam kehidupan sehari-hari, dan karena tidak pernah digunakan lagi budaya itu berangsur-angsur hilang. []


Artikel 20

Pengaruh Terbentuknya Karesidenan Jambi Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi (1906-1942)

Jambi merupakan salah satu daerah kecil di Sumatera yang memiliki kekayaan alam luar biasa. Kekayaan alam inilah yang menjadi daya tarik bagi Belanda untuk dapat menguasai Jambi secara utuh. Usaha Belanda untuk menguasai Jambi terlaksana dengan dibentuknya Jambi menjadi sebuah residensi sendiri setelah sebelumnya menjadi daerah bagian dari Karesidenan Palembang.Perubahan pemerintahan yang terjadi di Jambi pada tahun 1906 memunculkan perubahan dalam kehidupan masyarakatnya baik dibidang sosial maupun ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah pertama mengetahui keadaan Jambi sebelum kedatangan Belanda. Kedua mengetahui proses terbentuknya Karesidenan Jambi. Ketiga mengetahui pengaruh dari perubahan pemerintahan di Jambi terhadap sosial ekonomi penduduk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah kritis yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Heuristik merupakan tahap pengumpulan sumber sejarah guna mendapatkan informasi yang lebih banyak dan relevan dengan penelitian. Verifikasi merupakan proses pengujian dan menganalisa keotentikan dan kredibilitas sumber yang diperoleh dari segi fisik maupun isi sumber. Interpretasi merupakan penafsiran atas fakta-fakta sejarah dengan mencari hal yang berhubungan antara fakta sehingga menjadi bermakna dan logis. Historiografi atau penulisan yaitu penyampaian sintesis yang diperoleh dalam bentuk karya sejarah. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa perubahan status pemerintahan di Jambi terjadi karena kegagalan dari pemerintah tradisional (Kesultanan Jambi) yang tidak dapat mempertahankan kekuasaannya setelah kedatangan Belanda. Setelah Jambi menjadi wilayah kekuasaan Belanda dilakukan berbagai perombakan di bidang politik, sosial, dan ekonomi. Perekonomian Jambi berkembang karena adanya bentuk perubahan jenis tanaman perkebunan yang dibawa oleh Belanda. Keberhasilan perekonomian di Jambi membuat penduduk menginginkan kesejahteraan sosial yang sama dengan penduduk Eropa, Cina dan pendatang lainnya sehingga diadakanlah pembangunan sarana pendidikan bagi penduduk pribumi. Berkuasanya Belanda di Jambi pada 1906-1942 menghasilkan pembangunan-pembangunan infrastruktur untuk mempermudah segala aktivitas baik di kota maupun di pedalaman.


 

Comments

Popular posts from this blog

Puisi Bahasa Lampung

Pengertian Puisi, Pattun dan Pepaccur Lampung

SISTEM KEPERCAYAAN dan KEDATANGAN DEUTRO DAN PROTO MELAYU KE INDONESIA